Senin, 19 Maret 2018

Makalah Manajemen Dakwah "SEJARAH, PERANAN DAN SARANA MANAJEMEN DAKWAH"

SEJARAH, PERANAN DAN SARANA MANAJEMEN DAKWAH

Makalah
Diajukan kepada Dosen Pembina
Dalam rangka penyelesaian makalah
Mata kuliah Manajemen Dakwah
Program Studi Pendidikan Agama Islam




Oleh
KELOMPOK 1
SABARIA                                                                   16 0201 0135
SULYADI                                                                   16 0201 0142
VARSELLA APRILLIAN AMRUL                                   16 0201 0145


Dosen Pembina
Dr. ADILAH MAHMUD, M.Sos.I



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PALOPO

TAHUN AJARAN 2017/2018

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah swt. atas berkah dan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan makalah Manajemen Dakwah yang berjudul Sejarah, Peranan Dan Sarana Manajemen Dakwah.
Terselesaikannya Makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari beberapa pihak, sehingga pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.         Guru kami Dr. Adilah Mahmud M.Sos.I., selaku dosen pembina yang telah memberikan kami kesempatan dalam pembuatan dan penyelesaian makalah ini.
2.         Kedua Orang Tua kami yang senantiasa mendukung, menuntun kami dalam hidup ini dengan doa yang tulus.
3.         Teman-teman mahasiswa/mahasiswi yang selalu memberi semangat dan motifasi untuk kami dalam penyelesaian Makalah ini.
Penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, informasi yang masih kurang, sistematika yang masih kurang baik, masih kurangnya pengetahuan kami tentang materi. Sehingga pada kesempatan ini kami juga mengharapkan kritik serta saran dari teman-teman mahasiswa/mahasiswi dan para pembaca untuk penulisan makalah yang lebih baik lagi kedepannya.
Semoga dengan adanya makalah ini teman-teman mahasiswa/mahasiswi  serta pembaca bisa menambah pengetahuan dan semoga kedepannya kita bisa menyelesaikan penulisan karya-karya tulis lain dengan lebih baik lagi.

Palopo, 28 Februari 2018
             

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1
B.        Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.        Tujuan Penulisan...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A.       Sejarah Manajemen Dakwah................................................................... 3
B.        Peranan Manajemen Dakwah.................................................................. 17
C.        Sarana Manajemen Dakwah.................................................................... 18

BAB III PENUTUP
A.       Kesimpulan.............................................................................................. 19
B.        Saran........................................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 21


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Sebagai rahmat bagi seluruh alam, Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia. Ajaran Islam yang mencakup segenap aspek kehidupan itu dijadikan sebagai pedoman hidup dan dilaksanakan sebagai pedoman hidup dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh umat manusia.
Usaha untuk menyebar luaskan Islam, untuk merealisir ajarannya ditengah-tengah kehidupan umat manusia merupakan suatu usaha dakwah, yang dalam keadalan bagaimana pun dia harus dilaksanakan oleh umat Islam.
Dakwah sudah mulai di jalankan dari ketika masa Rasulullah SAW, yang memulai debut dakwah nya secara sembungi-sembungi hingga terang-terangan, dan dakwah masih dijalankan hingga saat ini.
Seiring bergantinya zaman, maka lahirlah Ilmu manajemen yang memili tujuan mengatur dan memimpin, maka pengabungan dua ilmu ini lahirlah suatu ilmu positif yang sangat berguna bagi para da’i.
Penyelenggaraan usaha dakwah Islam, terutama dimasa depan akan semakin bertambah dan kompleks. Hal ini disebabkan karena masalah-masalah yang dihadapi oleh dakwah semakin berkembang dan kompleks pula.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya, telah banyak membawa banyak perubahan bagi masyarakat. Baik dalam cara berfikir, sikap dan tingkah laku. Dari dimensi yang satu kemajuan ilmu kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu teologi memang telah membuat umat manusia lebih sempurna dalam meguasai, mengelola alam untuk kepentingan kesejahteraan hidup mereka. Tetapi dari dimensi yang lain, kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi itu justru menimbulkan hasil-hasil samping atau ikutan yang tidak direncanakan dan tidak dikehendaki.
Sebagai mahasiswa jurusan tarbiyah sudah selayaknya kita mengetahui tentang Segala sesuatu yang berkaitan dengan Dakwah khususnya Manajemen Dakwah karena dengan mempelajari dan mengetahui hal-hal pokok dalam menajemen Dakwah kita akan lebih mudah dalam berdakwah dimasa akan datang. Untuk itulah dalam tugas Mata Kuliah Manajemen Dakwah ini, Kami akan memaparkan beberapa konsep utama Dakwah mulai dari sejarah, peranan, dan sarana dalam manajemen Dakwah.

B.        Rumusan Masalah
Kaidah penulisan Makalah tentu memiliki rumusan masalah. Adapun rumusan masalah dalam penulisan pada Makalah  ini adalah :
1.      Bagaimanakah sejarah manajemen dakwah?
2.      Bagaimanakah peranan manajemen dakwah?
3.      Bagaimanakah sarana manajemen dakwah?

C.       Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di atas, penulis kiranya dapat memberikan kontribusi yang terangkai pada tujuan penulisan berikut :
1.      Mengetahui sejarah manajemen dakwah.
2.      Mengetahui peranan manajemen dakwah.
3.      Mengetahui sarana manajemen dakwah.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Manajemen Dakwah
Secara klasik manajemen muncul ribuan tahun lalu ketika manusia sudah melakukasebuah pengorganisasian yang diarahkan kepada orang orang yang bertanggung jawab atas perencanaan, pemimpin dan pengendalian kegiatan manusia.[1]
Manajemen klasik ini dimulai sejak zaman prasejarah 1 SM.[2] Ilmu administarasi termasuk didalamnya ilmu manajemen,telah tumbuh berkembang bersamaan dengan peradaban manusia Manajemen klasik dimulai sejak zaman prasejarah dan berkembang bersamaan dengan perkembangan manusia. Hal ini didasarkan pada zaman manusia mesopotomia yaitu masyarakat yang menggunakan uang sebagai alat pembayaran. Pada waktu itu mata uang logom digunakan sebagai alat tukar menukar dalm mengatur perdagangan. Mesir kuno sebagai salah satu peradapan dunia yang tercatat dalam “pepipus” yang dikenal dengan keajaiban piramidanya. Beralih keromawi kuno yang merupakan kebanggaan dari Romawi Kuno dengan maha karya “Cecero” yang menggunakan konsep administrasi dan konsep demokratos yang merupakan idaman masyarakat modern.
Sementara itu sejarah perkembangan manajemen dunia tumbuh dan berkembang pesat karena dibutuhkan untuk mengatur dan bekerja sama secara simbolis dalam dunia industri, pertanian, pendidikan dan lain lain. Sebagai perintis ilmu manajemen, Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin klasik, dimana ia mengemukakan keuntungan ekonomi yang akan diperoleh organisasi atau masyarakat yang melakukan pembagian kerja. Pengaruh lain terjadi pada saat revolusi industri di Inggris, sumbangan penting dalam dunia manajemen adalah terjadinya proses pengambilalihan tenaga mesin dengan cepat menggantikan tenaga manusia, yang pada gilirannya menjadikan produksi lebih ekonomis.[3]
Sedangkan dalam prinsip manajemen islam, dalam sejarah perkembangannya manajemen dipengarui oleh agama, tradisi, adat istiadat dan sosial budaya. Maka islam dalam memandang manajemen berdasarkan teologi, yakni pada dasarnya manusia memiliki potensi positif yang dilukiskan dengan istilah hanif.
Al Quran juga menerangkan pokok­-pokok ajaran yang merupakan prinsip dasar manajemen. Di mana di dalam akan tergambar ajaran mengenai hubungan manusia dengan kholiqnya dan terdapat ajaran mengenai prinsip cara memimpin, mengelola, serta mengatur kehidupan. Dalam tauhid manajemen merupakan sebuah teknik untuk mengelola supaya tidak lepas dari ubudiyah dan mu’amalah merupakan sebuah aspek tauhid yang harus dipercayai dan diyakini. Pada masa Rasulullah, banyak teladan dalam manajemen dari kehidupan dakwah Rasulullah.[4]
Melalui petunjuk Allah SWT Rasulullah mulai melakukan aktivitas dakwahnya secara hierarki. Dengan cara mengajak keluarga dekat kemudian pengingat kaumnya, pengingat angsa arab, dan yang terakir beliau pengingat seluruh alam. Secara keseluruhan aktivitas dakwah Rasulullah telah termanjerial.
1.      Potret Dakwah Rasulullah saw.
Dakwah rasulullah Saw dimulai pasca turunnya surat al-Muddzatstsir ayat pertama, yang mengandung seruan agar beliau tegak melakukan Andzir, ا نذ ر- peringatan. Pada kondisi semacam itu objek dakwah Nabi tidak pada masyarakat secara umum melainkan melakukan pendekatan secara persuasif pada orang-orang yang terdekat secara sembunyi-sembunyi. Betapa tidak, bila dakwah dilaksanakan secara terbuka, maka secara langsung mereka menolaknya bahkan bereaksi secara keras.[5] Secara sistematis urutan dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw. Adalah sebagai berikut:
a.       Dakwah pertama ditujukan kepada orang-orang yang serumah dengannya.
b.      Berdakwah kepada orang-orang yang bersahabat dengannya.
c.       Berdakwah kepada orang-orang yang agak dekat dengan beliau. Setelah itu baru terbuka, Nabi Muhammad Saw berdakwah kepada masyarakat luas, yaitu kaum Quraisy dan masyarakat Mekkah pada umumnya.
Penjelasan tersebut, ditinjau dari objek dakwahnya, yakni dakwah tersebut secara bertahap, menunjukkan rencana yang cermat pada sasaran dakwah. Bermula dari sembunyi-sembunyi kemudian setelah mendapat pengikut yang kuat dan militan, kemudian menyebarluaskan dakwah secara terbuka.
Apabila ditinjau dari sudut pembinaan masyarakat Islam, pertama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah dengan membentuk pribadi muslim dengan roh dan jiwa tauhid. Pada periode Mekkah yang berlangsung selama sepuluh tahun, prioritas utama dakwahnya adalah perubahan seorang Arab menjadi seorang muslim. Setelah pasca-Mekkah atau lebih dikenal periode Madinah barulah dilakukan pembinaan masyarakat Islam.
Menurut penulis perencanaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw., meliputi tujuan yang akan dicapai, memberikan rumusan tentang kebijaksanaan maupun tindak-tanduk dakwah masa datang yang ditetapkan sebelumnya.
Pada kahikatnya perencanaan berfungsi memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana dan mengapa tugasnya dilakukan.
Pada periode Madinah Islam tampil menjadi dua kekuatan, yaitu kekuatan dunia dan kekuatan spiritual. Dalam periode Madinah banyak terobosan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.[6] Untuk memperkokoh kekuatan masyarakat baru sekaligus merupakan instrumen diletakkan dasar-dasar masyarakat, yaitu:
1.      Mendirikan masjid untuk kaum muslimin serta melakukan shalat Jum’at. Dalam khatbah Jum’at yang kemudian oleh para ahli sejarah politik dinyatakan sebagai proklamasi lahirnya negara Islam. Masjid difungsikan bukan sebagai tempat ibadah saja melainkan sebagai sentral aktivitas umat Islam. Fungsi sosial, yakni mempererat hubungan dan ikatan para jamaah, karena di sini mereka dapat saling berkumpul untuk berdiskusi dan bermusyawarah. Di tempat ini, umat Islam adalah umat yang satu, tidak ada perbedaan antara kabilah atau suku yang satu dengan kabilah yang lain. Masjid juga berlaku konsep dan strategi pengembangan dakwah Islam, mengalir syiar Islam untuk menyucikan jiwa dan kepribadian umat, serta mengajak berpartisipasi membangun suatu tatanan masyarakat Muslim.
2.      Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama muslim, yaitu mempersatukan antara Muhajirin dengan Muhajirin, antara Anshar dengan Anshar, dan antara Muhajirin dengan Anshar.
3.      Mengadakan hubungan toleransi antara Islam dan pihak non-Islam. Ini merupakan salah satu perhatian khusus Nabi Muhammad Saw. Kepada orang-orang yang belum masuk Islam, tetapi mereka hidup bersama masyarakat Islam di Madinah. Salah satu wujud dari toleransi adalah dengan melakukan perjanjian antara orang-orang muslim dengan masyarakat non-muslim di pihak lain. Isi dari perjanjian tersebut adalah tentang persamaan hak dibidang politik dan beragama, menjamin kemerdekaan beragama, kewajiban mempertahankan keamanan dari pihak luar. Itulah yang dinamakan Konstitusi Madinah. Kesemuanya itu dimaksudkan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang harmonis, damai, dan sejahtera. Jika terjadi sengketa di antara mereka, maka harus dikembalikan pada Allah dan Muhammad, sebagai pemimpin kekuasaan politik. Kebebasan Piagam Madinah sebagai sebuah kontribusi menjadikan Madinah sebagai nation state (Negara Bangsa) dengan Nabi sebagai Mandataris piagam Madinah.
4.      Penaklukan kota Mekkah. Dari kota Mekkah inilah kemudian Islam disiarkan ke daerah-daerah lain. Di Mekkah inilah direncanakan beberapa program dakwah. Kota Mekkah adalah pusat keagamaan yang disucikan oleh bangsa Arab, melalui konsolidasi dengan para kabilah bangsa Arab, maka Islam dapat tersebar secara luas. Faktor lainnya adalah apabila suku Muhammad (Quraisy) sendiri dapat diIslamkan, maka akan memperoleh dampak yang besar terhadap syiar Islam, karena suku Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang amat besar. Penaklukan Mekkah ini merupakan sebuah stabilitasi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin. Ia ahli dalam strategi dan piawai dalam mengatur umatnya. Walaupun demikian, para ahli sejarah mencatat bahwa dalam berbagai konflik, beliau sering melakukan pendekatan secara diplomatik daripada mengambil tindakan militer. Tak heran apabila jumlah aliansi politik dari berbagai kabilah meningkat tajam, otomatis peluang dakwah Islam terbuka lebar.
5.      Melakukan lobi-lobi politik, salah satunya melalui ikatan perkawinan dengan tokoh-tokoh pemegang kekuasaan pada saat itu. Ini sekaligus membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang Universal.
Secara historis, dapat dilihat strategi politis yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dalam proses penyampaian dakwah kepada masyarakat. Pada sekitar tahun 610 M, kota Mekkah telah memiliki bala tentara sekitar 1000 orang yang berarti dapat ditaksir berpenduduk kurang lebih 5000 orang lebih. Kaum kapitalis takut akan gerakan Nabi Muhammad Saw dan berperan sebagai oposan. Gerakan politik Nabi Muhammad Saw dimulai sejak hijrahnya ke Yasrib atau Madinah pada tahun 622 M.[7]
Bahwa sistem manajemen yang digunakan adalah bertahap dan persuasif, yakni diawali ketika beliau merintis dakwah mulai dengan cara bersembunyi (sirriy). Setelah kondisinya kondusif, maka Rasulullah Saw mulai menyebarkan dakwah dengan terang-terangan (Jahr). Begitu pula ketika melakukan hijrah, nabi menyuruh para sahabat untuk pindah dari Mekkah ke Madinah terlebih dahulu kemudian baru beliau menyusul, dan tempat hijrah pun sudah direncanakan atau beliau menyusul, dan tempat hijrah pun sudah direncanakan atau ditentukan sebelumnya.[8]
Berawal dari kota Madinah kemudian dikembangkan prinsip-prinsip keteraturan, kedisiplinan, dan kerapian. Nabi Muhammad Saw dengan cermat memerhatikan kondisi sosiokultural dan geografis kota Madinah, mempersaudarakan para sahabatnya hingga persatuan dan kesatuan para sahabat semakin kokoh sehingga perselisihan atau persengketaan dapat diantisipasi lebih dini, dan semua kondisi tersebut telah direncanakan dengan cermat sebelumnya. Sebagai tindak lanjut keadaan tersebut, beliau kemudian menyusun atau mengadakan perjanjian dengan berbagai komponen masyarakat yang tinggal di Madinah, menyusun kekuatan untuk memperkuat pertahanan untuk melindungi kota Madinah dari serangan pihak luar.[9]
Muhammad Abdul Jawwad dalam bukunya “Menjadi Manajer Sukses” menyebutkan, bahwa secara umum dalam setiap tindakannya potret manajemen dalam kehidupan Rasulullah saw. Meliputi:
1.      Mengatur Tingkatan Dakwah.
Engkau hadir wahai rasulullah Saw disaat manusia dalam kekacauan. Mereka selalu berjalan melewati berhala-berhala dan mereka selalu menuju berhala-berhala tersebut”.
2.      Mengatur Dan Mengatur Pakaian.
Sesungguhnya kalian akan mengunjungi kawan-kawan kalian sendiri, maka persiapkanlah perjalanan kalian dengan baik dan kenakanlah pakaian yang bagus sehingga kalian memiliki kekhasan di mata orang-orang, sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai hal-hal kotor dan perbuatan kotor” (HR. Abu Dawud).
3.      Mengatur Dan Menata Makanan.
Tidak ada tempat yang sering dikunjungi oleh anak Adam yang lebih jelek dari perutnya. Sebenarnya cukup bagi anak Adam untuk memakan beberapa suapan saja untuk meluruskan tulang belakangnya, kalau memang ia harus melakukan itu, hendaknya sepertiga perutnya untuk makan, sepertiga yang lain lagi untuk minumnya, dan sepertiga sisanya untuk nafasnya.” (HR. Ahmad dan Turmudzi).



4.      Mengangkat Pemimpin Dalam Setiap Kelompok.
Datanglah kepadaku dua belas pemimpin dari kaum kalian, supaya mereka mewakili urusan-urusan kaumnya! Dan akhirnya mereka mengirim dua belas pemimpin; sembilan dari kabilah al-Khazraj dan tiga dari kabilah Aus.”
5.      Mengatur Jalannya Kehidupan.
Badanmu memiliki hak atas kamu, keluargamu mempunyai hak atas kamu, orang-orang yang bertemu padamu juga mempunyai hak atas kamu, karenanya berikanlah hak pada semua orang yang berhak.”
6.      Mengatur Waktu.
Orang yang berakal hendaknya memiliki empat waktu: waktu untuk berbisik (meminta pertolongan) kepada Allah Swt. Waktu untuk membisiki (menginstrospeksi) diri sendiri. Waktu untuk memikirkan ciptaan Allah, serta waktu senggang untuk makan dan minum”.
7.      Mengatur Cara Penyampaian Dakwah
Ibnu Abbas r.a berkata, “ketika ayat ‘Dan berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat’ (As-syura; 274) turun, beliau naik ke bukit Shafa dan berseru ‘Wahai bani Fihr, wahai bani ‘Adi....’ hingga mereka berkumpul. Pemimpin-pemimpin kaum yang tidak bisa datang, mengirim utusannya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab dan Quraisy juga datang memenuhi seruan rasul. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah Saw. Berkata; ‘Apa pendapat kalian apabila saya memberi tahu kepada kalian semua, bahwa di balik bukit itu ada sekumpulan pasukan berkuda yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan memercayaiku?’ Mereka berkata. ‘Kami tidak pernah menemukan kamu berbohong.’ Rasul melanjutkan sabdanya. “Sesungguhnya saya mengingatkan pada kalian semua akan azab yang sangat pedih”. Dalam Muhammad al-Ghazali, Fiqhus-Siirah.
8.      Mengatur Langkah-Langkah Strategi Berdakwah.
Kondisi semacam ini bisa terlihat pada kerapian dan keteraturan yang tampak dalam dialog-dialog Rasulullah Saw. Dengan sahabat dan para penentangnya yang banyak kita jumpai pada kitab-kitab sirah.

9.      Mengatur Penempatan Orang Secara Cermat.
Dalam menetapkan segala urusan, Rasulullah telah menempatkan personel sesuai dengan kapasitas keilmuan mereka masing-masing. Hal ini dapat dilihat dari penempatan yang diberikan kepada Ali bin Abi Thalib r.a dan Ustman bin Affan r.a diangkat sebagai pencatat wahyu, dan apabila mereka berdua sedang tidak ada di tempat maka Ubay bin Ka’ab r.a dan Zaid bin Tsabit r.a menjadi penggantinya.
Semua kebijakan yang diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tidaklah berjalan secara alamiah saja, melainkan melalui proses panjang yang memerlukan pemikiran, perencanaan, serta pengorganisasian yang tepat dan cermat dalam pencapaian tujuan. Maka tidak heran jika pada akhirnya dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dapat mencapai sukses yang gemilang.
Uraian tersebut menunjukkan, bahwa manajemen telah dilaksanakan Nabi Muhammad Saw beserta para sahabatnya setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Di Madinah beliau menyusun berbagai keputusan untuk membangun masyarakat yang dilandasi oleh prinsip-prinsip keimanan, persamaan hak dan kewajiban antara sesama muslim dan non-muslim melalui musyawarah untuk menciptakan kerjasama (ta’awun) dalam partisipasi aktif membangun negara Madinah.
Tindakan Nabi Muhammad Saw mempersatukan penduduk Madinah menjadi satu umat, menurut Watt, merupakan kesatuan politik model baru.[10]
          Penggunaan manajemen yang tepat dan akurat terhadap objek sasaran dakwah, maka dalam waktu relatif singkat Nabi Muhammad Saw dapat mengubah tatanan masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi. Demikian juga dalam bidang kenegaraan, kepemimpinan beliau dapat membentuk Madinah menjadi sebuah negara super power ketiga setelah Bizantium dan Persia. Ini tidak lepas dari pola yang yang dikembangkan beliau, yaitu dengan memprioritaskan ikatan kekeluargaan, sosial-poitik, ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan. Jika dikaitkan dengan manajemen modern, maka praktek yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad Saw. Lebih mengarah pada penggunaan manajemen by objective dan manajemen inovative.
          Pelaksaan manajemen inovatif sangat dibutuhkan bagi kegiatan dakwah sesuai dengan firman Allah dalam surat ar-Ra’d: 11
¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#ur& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqß Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ  
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
Selanjutnya jika dikaji lebih cermat, maka manajemen yang digunakan Nabi Muhammad Saw dapat berhasil dengan sukses, disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1.      Community resources, yaitu meneliti terlebih dahulu potensi yang dimiliki, baik potensi manusia maupun potensi sumber daya alam.
2.      Community educator, yaitu meneliti secara cermat tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat.
3.      Community developer. Yaitu meneliti secara seksama orientasi pembangunan yang akan dikembangkan.

2.      Potret Dakwah Khulafah al-Rasyidin
a)      Dakwah pada masa Abu Bakar As-Shidiq
Abu Bakar yang memerintah selama dua setengah tahun tepatnya dua tahun tiga bulan dua puluh hari. Walau masa pemerintahannya sangat singkat namun sarat dengan amal dan jihad. Di saat Abu Bakar memerintah tiba-tiba Madinah dikejutkan oleh gerakan yang menggerogoti sistem Islam yang meluas hampir ke semenanjung Arabia. Bentuk gerakana tersebut ialah: murtad dari agama Islam karena mengikuti nabi palsu yaitu Musailamah al-Kadzab, Thulaihah al-Asad dan al-Aswad al-Anasi dari Yaman; keengganan membayar zakat karena mengikuti Malik ibn Nawiroh dari Bani Tamim.
Selain menghadapi rongrongan dari dalam Islam sendiri Abu Bakar juga melakukan ekspansi wilayah keluar daerah diantara hingga mencapai Bashrah, Qatar, Kuwait, Iraq, bahkan hingga daerah kekuasaan kekaisaran Romawi yang meliputi Mesir, Syiria dan Palestina.
Gerakan dakwah yang paling menonjol pada Khalifah Abu Bakar ialah pengumpulan Al Qur’an. Alasan utama dikumpulkannya Al-Qur’an ialah rasa kekhawatiran seorang Umar ibn Khatthab terhadap masa depan Islam jika kadar intinya yang menjaga Islam dengan Al Qur’an (Qurra dan Huffadz) gugur satu per satu di medan perang.[11]
b)     Dakwah pada masa Umar ibn Khatthab
a.       Penyempurnaan Fath Irak
Irak dijadikan pangkalan kekuatan kaum Muslimin untuk melakukan perluasan ke negeri-negeri Persia lainnya. Irak saat itu meliputi kawasan Kuffah (ibu kota Islam pada masa Ali), kemudian Baghdad (ibu kota Islam pada masa Abbasiyah), dan Samra yang didirika pada masa Mu’tasyim.
b.      Iran
Setelah Irak ditaklukan negeri-negeri lain di Persia juga ditaklukan, diantaranya negeri-negeri di seberang sungai. Dengan demikian habislah riwayat Imperium Persia.
c.       Syam dan Palestina
Ketika khalifah pertama Abu bakar meninggal dunia sedang berlangsung di Syam dibawah komando Khalid ibnn Walid, dibantu oleh Abu Ubaidah ibn Jarrah, Amr ibn Ash, Yazid ibn Abi Sufyan Syurahbil ibn Hasanah. Ketika Umar diangkat menjadi Khalifah, beliau mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima teringgi untuk kawasan Syam. Khalid dikirimi surat pengunduran dirinya sa’at perang sedang berlangsung, pakar sejarah berpendapat peristiwa ini terjadi pada perang Yarmuk. Khalid menerima keputusan itu, beliau tetap aktif ikut dalam peperangan dibawah komando Abu Ubaidah. Sebagian ahli sejarah mengatakan ditunjuk Abu Ubaidah oleh Umar karena lapangan sa’at itu membutuhkan pemimpin yang kriterianya ada pada Abu Ubaidah, beliau memiliki keahlian dalam hal lobby dan administrasi, sedangkan keahlian Khalid adalah strategi perang.
d.      Yordania 
Dalam upaya perluasan daerah kewilayah ini, kaum muslimin harus mengambil jalan terakhir, yaitu menghadapi pasukan Romawi yang  tidak mau mempersilahkan kaum muslimin melakukan dakwah secara damai. Kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran.
e.       Syiria 
Pasukan Islam melanjutan perjalanannya menuju Dimasyq (damaskus) dibawah komando Ubaidillah ibn Jarrah. Setelah Syiria tunduk, pasukan bergerak menuju ke utara. Yaitu Hims, Hamat, Halb, Shoid, dan Bairut.
f.       Palestina
Sejak terjadinya peristiwa isra’ mi’raj, negeri Palestina tidak bisa dipisahkan dengan kaum muslimin. Aqhsa adalah negeri suci ketiga yang diperintahkan kepada kaum muslimin untuk dikunjungi. Berdasarkan kenyataan tersebut, kaum muslimin betul-betul serius untuk membebaskan negeri ini dari kekuasaan Romawi. Namun akhirnya mereka memilih damai dan meminta kepada pasukan agar langsung menghadirkan Umar ibn Khatthab perihal tersebut. Di pintu negeri Palestina, Umar disambut oleh Beartrick Ciprunius dan sebagian pemimpin kaum muslimin. Pada kesepakatan itu Umar membuat kesepakatan untuk memberikan rasa aman, yaitu keamanan harta benda dan jiwa dan syiar keagamaan kepada penduduk asli. Kesepakatan itu dikenal dengan perjanjian Umar. Ketika waktu sholat ashar Umar menolak untuk sholat di gereja Qiamat, tetapi beliau sholat diluarnya, khawatir dikemudian hari kaum muslimin mengikuti sunnah Umar. Perbuatan Umar ini menegaskan bagaimana toleransi kaum muslimin dengan orang yang tidak seagama. 
g.      Ekspedisi kawasan Maghribi
Ekspdisi penyiaran Islam keluar kawasan Arab kemudian memecah diri ke beberapa penjuru. Disamping gerakan kearah timur mereka juga bergerak kearah barat. Pasukan sebesar 4000 orang prajurit muslim bergerak ke Mesir dibawa panglima Amr ibn Ash. Sepanjang perjalanan tampaknya besar pasukan makin bertambah, sampai mencapai 20.000 orang. Hal ini menimbulkan kesan bagi orang Islam telah membangkitkan daya tarik untuk bergabung dalam pasukan dibawah panji-panji Islam. Sukses kembali ada di prajurit berkuda kaum muslimin yang telah terlatih pula. Seruan kalimat Allahu akbar disetiap medan perang tampaknya menimbulkan efek ganda. Disatu sisi berhasil membangkitkan semangat dan ketegaran bagi umat Islam dalam melaksanakan misi suci mereka dalam penyebaran Islam. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Khalid ibn Walid adalah menjadikan kota heliopolis sebagai ibu kota Islam di Mesir. Dalam perkembangan selanjutnya kota ini dikenal dengan sebutan Cairo Lama yang kelak mejadi ibu kota Mesir.
Setelah mendapatkan izin dan restu khalifah pasukan Amr ibn Ash meneruskan eksedisinya kawasan matahari tenggelam dijalur Afrika Utara. Dalam ungkapan bahasa Arab kawasan itu disebut kawasan Magribi, yang berasal dari dari kata ghurubi syamsy yang berarti tenggelam matahari.
Tidak seorang prajurit dan orag Arab berhak atas kawasan baru itu. Semua kawasan dan kekayaan baru langsung menjadi milik Islam. Penguasa setempat tidak dipaksa untuk memeluk Islam keuali atas kemauan sendiri. Mereka diberi hak untuk meneruskan kepemimpinan otonom dikawasan mereka dengan kewajiban untuk membayar pajak perlindungan (jizyah) kepada kekhalifahan di Madinah.[12]
c)      Dakwah pada masa ‘Utsman ibn ‘Affan
Melalui proses yang panjang, maka terpilihlah ‘Utsman ibn ‘Affan sebagai khalifah. Pada masa kekhalifahannya langkah yang diambil ialah sebagai berikut:
a.       Perluasan wilayah
Pada masa khalifah ‘Utsman inilah pertama kali dibentuk angkatan laut untuk menyerang daerah kepulauan yang terletak di laut tengah. Masa ini juga dibangun kapal perang sehingga dapat menaklukkan wilayah hingga mencapai Asia dan Afrika, seperti daerah Herat, Kabul, Ghazni, dan Asia Tengah, juga Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes dan sisa dari wilayah Persia.
b.      Sosial budaya
Membangun bendungan besar untuk mencegah banjir dan mengatur pembagian air ke kota. Membangun jalan, jembatan, masjid, rumah, penginapan para tamu dalam berbagai bentuk serta memperluas Masjid Nabawi di Madinah.
Namun pada pertengahan kedua pemerintah ‘Utsman retak ditimpa perpecahan yang disebabkan karena kebijakan ‘Utsman dalam mengganti para gubernur yang diangkat Umar yang didominasi dari keluarga Bani Umayyah. Sebagai contohnya khalifah ‘Utsman mengganti Sa’ad ibn Abi Waqash yang merupakan gubernur Kufah dengan Walid ibn Uqbah yang merupakan saudara se-ibu khalifah ‘Utsman.
c.       Penetapan Mushaf ‘Utsmani
Umat Islam pada masa khalifah ‘Utsman tinggal dalam wilayah yang sangat luas dan terpencar-pencar, sehingga penduduk masing-masing daerah tersebut membaca ayat-ayat Al Qur’an menurut bacaan yang mereka pelajari dari tokoh sahabat yang terkenal dari wilayah mereka (di Syiria masyarakat mengacu pada bacaan Ubay ibn Ka’ab, di Kufah masyarakat mengacu pada bacaan Abdullah ibn Mas’ud). Persoalan tersebut menimbulkan perselisihan di kalangan umat Islam.
Untuk mengatasi hal tersebut khalifah ‘Utsman membentuk sebuah tim yang bertugas untuk menyalin dan mengkodifikasikan ayat-ayat Al Qur’an ke dalam satu mushaf resmi yang diketuai oleh Zaid ibn Tsabit. Mushaf tersebut dibuat lima buah, empat buah dikirim ke wilayah Makkah, Syiria, Kufah, Bashrah dan satu tinggal di Madinah. Mushaf hasil kerja dari tim kodifikasi Al Qur’an pada masa khalifah ‘Utsman yang tinggal di Madinah disebut dengan Mushaf ‘Utsmani atau Mushaf Al-Imam yang sampai sekarang masih kita gunakan, bahan digunakan di selruh penjuru dunia.[13]
d)     Dakwah pada masa Ali ibn Abi Thalib
Sejarah kepemimpinan khalifah Ali adalah sejarah terakhir masa kekhalifahan umat Islam dalam sejarah setelah masa kenabian. Pada saat diangkat menjadi khalifah, mewarisi kondisi yang sedang kacau. Ketegangan politik terjadi akibat pembunuhan atas khalifah ‘Utsman. Seluruh jabatan gubernur saat itu hampir seluruhnya diduduki oleh keluarga Umayyah. Para gubernur ini menuntut Ali untuk mengadili pembunuh ‘Utsman.
Gerakan dakwah yang telah dilakukan oleh khalifah Ali secara garis besar dapat diperinci sebagai berikut:
ü  Merombak para pejabat teras, terutama pejabat yang di dominasi oleh keluarga Bani Umayyah.
ü  Menyamakan kedudukan seseorang dimata hukum. Seperti ketika khalifah Ali menuduh seorang Yahudi mengambil baju besi kepada hakim. Dipihak Ali memiliki keyakinan bahwa si Yahudi tersebut mencuri baju besinya, sedangkan di pihak Yahudi bersikukuh bahwa baju besi itu ia dapat dengan membelinya dari orang lain. Hakim pun kemudian memutuskan bahwa yang berhak atas baju besi itu adalah si Yahudi karena dari pihak Ali tidak dapat menghadirkan saksi bahwa baju besi itu milik beliau. Hal inilah yang membuat si Yahudi terkesima dan terkagum-kagum betapa adilnya hukum Islam, bahkan karena kejadian ini sampai membuat si Yahudi bersyahadat dan menyatakan keIslamannya.[14]

B.     Peranan Manajemen Dakwah
Pengetahuan dan teknologi. Pada masa ini penuh dengan problema yang kompleks, problema tersebut menyangkut politik, sosial, ekonomi, budaya dan kenegaraan. Untuk mengetasi problema tersebut perlu adanya ilmu manajemen. Sementara itu, Christher J. Barnard mengemukakan “ Tidak ada suatu hal untuk akal modern seperti sekarng ini yang lebih penting dari administrasi dan manajemen”.
Ajaran Islam adalah konsepsi yang  sempurna dan komperhensgip. Karena meliputi aspek kehidupan manusia, betapa pun garis besarnya saja, baik yang bersifat duniawi dan ukhrawi.
Menurut Mitzbererg peranan manajerial dapat diklasifikasikan dalam berbagai kegiatan yaitu;
a)      Berkaitan dengan hubungan antar pribadi.
b)      Berkaitan dengan informasi.
c)      Berakaitan dengan pengambilan keputusan
Dalam manajemen dakwah, hasil yang difokuskan adalah sasaran dakwah yang menjadi target bagi aktivitas dakwah yang direalisasikan dalam bentuk yang konkret. Sehingga diperlukan tindakan kolektif dalam bentuk kerjasama sesuai dengan kapasitas dan kemempuan yang dimiliki oleh para pelaku dakwah, yang mampu memberikan hsil yang maksimal secara profesional.[15]
Kapasitas peranan (peran interpersonal, peran informasi, dan peran desisional) manajemen dakwah dalam hal ini yaitu melakukan kerja sama secara harmonis yang merupakan usaha kolektif, yang terwujud dalam sebuah organisasi yang memiliki fungsi dan tugas sesuai dengan bidangnya serta distur oleh prinsip-prinsip manajemen.

C.    Sarana Manajemen Dakwah
Sarana manejemen dakwah terbagi menjadi dua jenis sarana. Diantara sarana­-sarana manajeman yaitu sebagai berikut :
1.      Sarana Yang Bersifat Manajerial
a)      Manajemen dengan pengaturan yaitu manajemen yang didasarkan pada sikap berlebih lebihan tanpa memikirkan aspek keluar,
b)      Manajemen reaksi, manajemen yang disasarkan pada aspek menunggu reaksi pihak lain,  
c)      Manajemnen krisis , merupakan sebuah manjemen yang bersifat insidental,
d)     Manajemen bertujuan, manajemen yang dibangun berdasarkan sikap memperliahtkan tujuan kepada kariawan,
e)      Manajemen mengakah, Manajemen dengan strategi mundur dalam melakukan posisi, dll.
2.      Sedangkan Sarana Manajemen Yang Bersifat Aplikatif
a)      Penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas atau memadai.
b)      Pengadaai informasi yang tepat dan akurat
c)      Pengadaan alat­alat pendukung
d)     Pengadaan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan serta dengan kondisi mad’u
e)      Dukungan finansial untuk pendukung sesuai aktifitas lembaga dakwah.[16]





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara klasik manajemen muncul ribuan tahun lalu ketika manusia sudah melakukasebuah pengorganisasian yang diarahkan kepada orang orang yang bertanggung jawab atas perencanaan, pemimpin dan pengendalian kegiatan manusia. Dalam prinsip manajemen islam, dalam sejarah perkembangannya manajemen dipengarui oleh agama, tradisi, adat istiadat dan sosial budaya. Maka islam dalam memandang manajemen berdasarkan teologi, yakni pada dasarnya manusia memiliki potensi positif yang dilukiskan dengan istilah hanif. Rasulullah saw., berdakwah pada periode Mekkah yang berlangsung selama sepuluh tahun, prioritas utama dakwahnya adalah perubahan seorang Arab menjadi seorang muslim. Setelah pasca-Mekkah atau lebih dikenal periode Madinah barulah dilakukan pembinaan masyarakat Islam. Pada periode Madinah Islam tampil menjadi dua kekuatan, yaitu kekuatan dunia dan kekuatan spiritual. Dalam periode Madinah banyak terobosan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.
Pengetahuan dan teknologi. Pada masa ini penuh dengan problema yang kompleks, problema tersebut menyangkut politik, sosial, ekonomi, budaya dan kenegaraan. Untuk mengetasi problema tersebut perlu adanya ilmu manajemen. Kapasitas peranan (peran interpersonal, peran informasi, dan peran desisional) manajemen dakwah dalam hal ini yaitu melakukan kerja sama secara harmonis yang merupakan usaha kolektif, yang terwujud dalam sebuah organisasi yang memiliki fungsi dan tugas sesuai dengan bidangnya serta distur oleh prinsip-prinsip manajemen.
Sarana manejemen dakwah terbagi menjadi dua jenis sarana. Diantara sarana­-sarana manajeman yaitu sarana yang bersifat manajerial  dan sedangkan sarana manajemen yang bersifat aplikatif


B.     Saran
Makalah yang memuat pembahasan tentang sejarah, peranan, dan sarana manajemen dakwah ini sangatlah jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini. Kedepannya kami akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan materi ini dengan berbagai sumber referensi yang lebih banyak yang tentunya dapat dimanfaatkan dan dipertanggung jawabkan. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kami pada khususnya, dan pembaca pada umumnya.
























DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir M.A. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah.
H. Zainal Muchtarom. 1996. Dasar-Dasar Manajemen Dakwah. Yogyakarta: Al-Amin  Press.
Illahi, Wahyu dan Harjani Efendi. 2007. Sejarah Dakwah. Jakarta : Prenada Media Group.
Iqbaal Ramazhaan. 2014. “Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin”. Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
Irfan Taufik. 2016. “Sejarah Manajemen Dakwah”. Dikutip dari http://irfantaufik26.blogspot.co.id/2016/03/manajemen-dakwa-pembahasan-arti-sejarah.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.12.
Munir dan Wahyu Illahi. 2006. Manajemen Dakwah. Jakarta: Rahmat Semesta.
Munir, Muhammad dan Wahyu Ilaihi. 2006. Manajemen Dakwah. Jakarta : Kencana Prenada Media.
Niezam Uchiha. 2016. “Manajemen Dakwah Rosulullah saw.”. Dikutip dari http://sains39.blogspot.co.id/2016/01/manajemen-dakwah-rosulullah-saw.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.03
Sahrul Taufik. 2013. “Sejarah Manajemen Dakwah”. Dikutip dari http://arulyuy.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-manajemen-dakwah.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.00.






[1]Muhammad Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 37.
[2]Sahrul Taufik, “Sejarah Manajemen Dakwah”, Dikutip dari http://arulyuy.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-manajemen-dakwah.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.00.
[3]Muhammad Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm. 39.
[4]Irfan Taufik, “Sejarah Manajemen Dakwah”, Dikutip dari http://irfantaufik26.blogspot.co.id/2016/03/manajemen-dakwa-pembahasan-arti-sejarah.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.12.
[5]Muhammad Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm. 48.
[6]Munir dan Wahyu Illahi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta, 2006), hlm. 49.
[7]Muhammad Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm. 40.
[8]Drs. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 231.
[9]H. Zainal Muchtarom, Dasar-Dasar Manajemen Dakwah, (Yogyakarta: Al-Amin  Press, 1996), hlm. 35.
[10]Niezam Uchiha, “Manajemen Dakwah Rosulullah saw.”, Dikutip dari http://sains39.blogspot.co.id/2016/01/manajemen-dakwah-rosulullah-saw.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.03
[11]Iqbaal Ramazhaan, “Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin”, Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
[12]Wahyu Illahi dan Harjani Efendi, Sejarah Dakwah, (Jakarta : Prenada Media Group, 2007), Edisi Pertama Cetakan Ke-1, hlm.  94.
[13]Iqbaal Ramazhaan, “Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin”, Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
[14]Iqbaal Ramazhaan, “Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin”, Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
[15]Muhammad Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm. 69.

[16]Irfan Taufik, “Sejarah Manajemen Dakwah”, Dikutip dari http://irfantaufik26.blogspot.co.id/2016/03/manajemen-dakwa-pembahasan-arti-sejarah.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.12.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Tauhid "MACAM-MACAM TAUHID MELIPUTI ULUHIYYAH, RUBUBIYAH DAN ASMA WA SIFAT"

TUGAS TAUHID MACAM-MACAM TAUHID MELIPUTI ULUHIYYAH, RUBUBIYAH DAN ASMA WA SIFAT Di susun oleh : KELOMPOK                        :...