SEJARAH,
PERANAN DAN SARANA MANAJEMEN DAKWAH
Makalah
Diajukan
kepada Dosen Pembina
Dalam
rangka penyelesaian makalah
Mata
kuliah Manajemen Dakwah
Program
Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh
KELOMPOK
1
SABARIA 16
0201 0135
SULYADI 16
0201 0142
VARSELLA APRILLIAN AMRUL 16 0201 0145
Dosen
Pembina
Dr.
ADILAH MAHMUD, M.Sos.I
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PALOPO
TAHUN
AJARAN 2017/2018
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah swt. atas berkah dan rahmat-Nya, kami dapat
menyelesaikan penulisan makalah Manajemen
Dakwah yang berjudul Sejarah, Peranan Dan Sarana Manajemen Dakwah.
Terselesaikannya
Makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari beberapa pihak, sehingga
pada kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih kepada :
1.
Guru kami Dr. Adilah Mahmud M.Sos.I., selaku dosen pembina yang telah memberikan kami kesempatan dalam pembuatan dan penyelesaian makalah ini.
2.
Kedua
Orang Tua kami yang senantiasa
mendukung, menuntun kami dalam hidup ini dengan doa yang tulus.
3.
Teman-teman
mahasiswa/mahasiswi yang selalu memberi semangat dan motifasi untuk kami dalam
penyelesaian Makalah ini.
Penulisan makalah
ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, informasi yang masih kurang, sistematika yang masih kurang baik, masih kurangnya
pengetahuan kami tentang materi. Sehingga
pada kesempatan ini kami juga mengharapkan kritik serta saran dari teman-teman mahasiswa/mahasiswi
dan para pembaca untuk penulisan makalah
yang lebih baik lagi kedepannya.
Semoga
dengan adanya makalah ini teman-teman mahasiswa/mahasiswi serta pembaca bisa menambah pengetahuan dan
semoga kedepannya kita bisa menyelesaikan penulisan karya-karya tulis lain
dengan lebih baik lagi.
Palopo, 28 Februari 2018
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah.......................................................................... 1
B.
Rumusan
Masalah.................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Manajemen Dakwah................................................................... 3
B.
Peranan
Manajemen Dakwah.................................................................. 17
C.
Sarana Manajemen Dakwah.................................................................... 18
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.............................................................................................. 19
B.
Saran........................................................................................................ 20
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................... 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebagai rahmat bagi seluruh alam, Islam dapat menjamin terwujudnya
kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia. Ajaran Islam yang mencakup segenap aspek
kehidupan itu dijadikan sebagai pedoman hidup dan dilaksanakan sebagai pedoman
hidup dilaksanakan dengan sungguh-sungguh
oleh umat manusia.
Usaha untuk menyebar luaskan Islam, untuk merealisir ajarannya
ditengah-tengah kehidupan umat manusia merupakan suatu usaha dakwah, yang dalam keadalan
bagaimana pun dia harus dilaksanakan oleh umat Islam.
Dakwah sudah mulai di jalankan dari ketika masa Rasulullah
SAW, yang memulai debut dakwah nya secara sembungi-sembungi hingga terang-terangan,
dan dakwah masih dijalankan hingga saat ini.
Seiring bergantinya zaman, maka lahirlah Ilmu manajemen yang
memili tujuan mengatur dan memimpin, maka pengabungan dua ilmu ini lahirlah
suatu ilmu positif yang sangat berguna bagi para da’i.
Penyelenggaraan usaha dakwah Islam, terutama dimasa depan akan semakin bertambah dan kompleks. Hal
ini disebabkan karena masalah-masalah yang dihadapi oleh dakwah semakin berkembang dan
kompleks pula.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya, telah banyak
membawa banyak perubahan bagi masyarakat. Baik dalam cara berfikir, sikap dan
tingkah laku. Dari dimensi yang satu kemajuan ilmu kemajuan ilmu pengetahuan
dan ilmu teologi memang telah membuat umat manusia lebih sempurna dalam
meguasai, mengelola alam untuk kepentingan kesejahteraan hidup mereka. Tetapi
dari dimensi yang lain, kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi itu justru
menimbulkan hasil-hasil samping atau ikutan yang tidak direncanakan dan tidak
dikehendaki.
Sebagai
mahasiswa jurusan tarbiyah sudah
selayaknya kita mengetahui tentang Segala sesuatu yang berkaitan dengan Dakwah
khususnya Manajemen Dakwah karena dengan mempelajari dan mengetahui hal-hal
pokok dalam menajemen Dakwah kita akan lebih mudah dalam berdakwah dimasa akan
datang. Untuk itulah
dalam tugas
Mata Kuliah Manajemen Dakwah
ini, Kami akan memaparkan beberapa konsep utama
Dakwah mulai dari sejarah, peranan, dan sarana dalam manajemen Dakwah.
B.
Rumusan
Masalah
Kaidah penulisan Makalah tentu memiliki rumusan
masalah. Adapun rumusan masalah dalam penulisan pada Makalah ini adalah :
1.
Bagaimanakah
sejarah manajemen dakwah?
2.
Bagaimanakah
peranan manajemen dakwah?
3.
Bagaimanakah
sarana manajemen dakwah?
C.
Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di atas, penulis kiranya
dapat memberikan kontribusi yang terangkai pada tujuan penulisan berikut :
1.
Mengetahui
sejarah manajemen dakwah.
2.
Mengetahui
peranan manajemen dakwah.
3.
Mengetahui
sarana manajemen dakwah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Manajemen Dakwah
Secara klasik manajemen muncul ribuan tahun lalu ketika
manusia sudah melakukasebuah pengorganisasian yang diarahkan kepada orang orang
yang bertanggung jawab atas perencanaan, pemimpin dan pengendalian kegiatan
manusia.[1]
Manajemen klasik ini dimulai sejak zaman
prasejarah 1 SM.[2] Ilmu administarasi termasuk
didalamnya ilmu manajemen,telah tumbuh berkembang bersamaan dengan peradaban
manusia Manajemen klasik dimulai sejak zaman prasejarah dan
berkembang bersamaan dengan perkembangan manusia. Hal ini didasarkan pada zaman manusia mesopotomia
yaitu masyarakat yang menggunakan uang sebagai alat pembayaran. Pada waktu itu
mata uang logom digunakan sebagai alat tukar menukar dalm mengatur perdagangan.
Mesir kuno sebagai salah satu peradapan dunia yang tercatat dalam “pepipus”
yang dikenal dengan keajaiban piramidanya. Beralih keromawi kuno yang merupakan
kebanggaan dari Romawi Kuno dengan maha karya “Cecero” yang menggunakan
konsep administrasi dan konsep demokratos yang merupakan idaman masyarakat
modern.
Sementara itu sejarah perkembangan manajemen dunia tumbuh
dan berkembang pesat karena dibutuhkan untuk mengatur dan bekerja sama
secara simbolis dalam dunia industri, pertanian, pendidikan dan lain lain. Sebagai
perintis ilmu manajemen, Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin klasik, dimana
ia mengemukakan keuntungan ekonomi yang akan diperoleh organisasi atau
masyarakat yang melakukan pembagian kerja. Pengaruh lain terjadi pada saat
revolusi industri di Inggris, sumbangan penting dalam dunia manajemen adalah
terjadinya proses pengambilalihan tenaga mesin dengan cepat menggantikan tenaga
manusia, yang pada gilirannya menjadikan produksi lebih ekonomis.[3]
Sedangkan dalam prinsip manajemen islam, dalam sejarah perkembangannya manajemen
dipengarui oleh agama, tradisi, adat istiadat dan sosial budaya. Maka islam
dalam memandang manajemen berdasarkan teologi, yakni pada dasarnya manusia
memiliki potensi positif yang dilukiskan dengan istilah hanif.
Al Quran juga menerangkan pokok-pokok ajaran yang merupakan prinsip
dasar manajemen. Di mana di dalam akan tergambar ajaran mengenai hubungan
manusia dengan kholiqnya dan terdapat ajaran mengenai prinsip cara memimpin,
mengelola, serta mengatur kehidupan. Dalam tauhid manajemen merupakan sebuah
teknik untuk mengelola supaya tidak lepas dari ubudiyah dan mu’amalah merupakan
sebuah aspek tauhid yang harus dipercayai dan diyakini. Pada masa Rasulullah, banyak teladan dalam manajemen dari
kehidupan dakwah Rasulullah.[4]
Melalui petunjuk Allah SWT Rasulullah mulai melakukan aktivitas dakwahnya secara hierarki. Dengan cara mengajak
keluarga dekat kemudian pengingat kaumnya, pengingat angsa arab, dan yang
terakir beliau pengingat seluruh alam. Secara keseluruhan aktivitas dakwah Rasulullah telah termanjerial.
1.
Potret Dakwah Rasulullah saw.
Dakwah rasulullah Saw dimulai pasca
turunnya surat al-Muddzatstsir ayat pertama, yang mengandung seruan agar beliau
tegak melakukan Andzir, ا نذ ر- peringatan. Pada kondisi semacam itu objek dakwah Nabi tidak
pada masyarakat secara umum melainkan melakukan pendekatan secara persuasif
pada orang-orang yang terdekat secara sembunyi-sembunyi. Betapa tidak, bila
dakwah dilaksanakan secara terbuka, maka secara langsung mereka menolaknya
bahkan bereaksi secara keras.[5]
Secara sistematis urutan dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw. Adalah sebagai
berikut:
a.
Dakwah pertama ditujukan kepada orang-orang yang serumah
dengannya.
b.
Berdakwah kepada orang-orang yang bersahabat dengannya.
c.
Berdakwah kepada orang-orang yang agak dekat dengan beliau.
Setelah itu baru terbuka, Nabi Muhammad Saw berdakwah kepada masyarakat luas,
yaitu kaum Quraisy dan masyarakat Mekkah pada umumnya.
Penjelasan tersebut, ditinjau dari
objek dakwahnya, yakni dakwah tersebut secara bertahap, menunjukkan rencana
yang cermat pada sasaran dakwah. Bermula dari sembunyi-sembunyi kemudian
setelah mendapat pengikut yang kuat dan militan, kemudian menyebarluaskan
dakwah secara terbuka.
Apabila ditinjau dari sudut
pembinaan masyarakat Islam, pertama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah
dengan membentuk pribadi muslim dengan roh dan jiwa tauhid. Pada periode Mekkah
yang berlangsung selama sepuluh tahun, prioritas utama dakwahnya adalah
perubahan seorang Arab menjadi seorang muslim. Setelah pasca-Mekkah atau lebih
dikenal periode Madinah barulah dilakukan pembinaan masyarakat Islam.
Menurut penulis perencanaan yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad saw., meliputi tujuan yang akan dicapai, memberikan rumusan
tentang kebijaksanaan maupun tindak-tanduk dakwah masa datang yang ditetapkan
sebelumnya.
Pada kahikatnya perencanaan
berfungsi memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang siapa, apa, kapan,
di mana, bagaimana dan mengapa tugasnya dilakukan.
Pada periode Madinah Islam tampil
menjadi dua kekuatan, yaitu kekuatan dunia dan kekuatan spiritual. Dalam
periode Madinah banyak terobosan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.[6]
Untuk memperkokoh kekuatan masyarakat baru sekaligus merupakan instrumen
diletakkan dasar-dasar masyarakat, yaitu:
1.
Mendirikan masjid untuk kaum muslimin serta melakukan shalat
Jum’at. Dalam khatbah Jum’at yang kemudian oleh para ahli sejarah politik
dinyatakan sebagai proklamasi lahirnya negara Islam. Masjid difungsikan bukan
sebagai tempat ibadah saja melainkan sebagai sentral aktivitas umat Islam.
Fungsi sosial, yakni mempererat hubungan dan ikatan para jamaah, karena di sini
mereka dapat saling berkumpul untuk berdiskusi dan bermusyawarah. Di tempat
ini, umat Islam adalah umat yang satu, tidak ada perbedaan antara kabilah atau
suku yang satu dengan kabilah yang lain. Masjid juga berlaku konsep dan
strategi pengembangan dakwah Islam, mengalir syiar Islam untuk menyucikan jiwa
dan kepribadian umat, serta mengajak berpartisipasi membangun suatu tatanan
masyarakat Muslim.
2.
Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama muslim, yaitu mempersatukan antara
Muhajirin dengan Muhajirin, antara Anshar dengan Anshar, dan antara Muhajirin
dengan Anshar.
3.
Mengadakan hubungan toleransi antara Islam dan pihak
non-Islam. Ini merupakan salah satu perhatian khusus Nabi Muhammad Saw. Kepada
orang-orang yang belum masuk Islam, tetapi mereka hidup bersama masyarakat
Islam di Madinah. Salah satu wujud dari toleransi adalah dengan melakukan
perjanjian antara orang-orang muslim dengan masyarakat non-muslim di pihak
lain. Isi dari perjanjian tersebut adalah tentang persamaan hak dibidang
politik dan beragama, menjamin kemerdekaan beragama, kewajiban mempertahankan
keamanan dari pihak luar. Itulah yang dinamakan Konstitusi Madinah. Kesemuanya
itu dimaksudkan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang harmonis,
damai, dan sejahtera. Jika terjadi sengketa di antara mereka, maka harus
dikembalikan pada Allah dan Muhammad, sebagai pemimpin kekuasaan politik.
Kebebasan Piagam Madinah sebagai sebuah kontribusi menjadikan Madinah
sebagai nation state (Negara Bangsa) dengan Nabi sebagai
Mandataris piagam Madinah.
4.
Penaklukan kota Mekkah. Dari kota Mekkah inilah kemudian
Islam disiarkan ke daerah-daerah lain. Di Mekkah inilah direncanakan beberapa
program dakwah. Kota Mekkah adalah pusat keagamaan yang disucikan oleh bangsa
Arab, melalui konsolidasi dengan para kabilah bangsa Arab, maka Islam dapat
tersebar secara luas. Faktor lainnya adalah apabila suku Muhammad (Quraisy)
sendiri dapat diIslamkan, maka akan memperoleh dampak yang besar terhadap syiar
Islam, karena suku Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang amat besar.
Penaklukan Mekkah ini merupakan sebuah stabilitasi yang dilakukan oleh Nabi
Muhammad Saw. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin. Ia ahli dalam strategi dan
piawai dalam mengatur umatnya. Walaupun demikian, para ahli sejarah mencatat
bahwa dalam berbagai konflik, beliau sering melakukan pendekatan secara
diplomatik daripada mengambil tindakan militer. Tak heran apabila jumlah
aliansi politik dari berbagai kabilah meningkat tajam, otomatis peluang dakwah
Islam terbuka lebar.
5.
Melakukan lobi-lobi politik, salah satunya melalui ikatan
perkawinan dengan tokoh-tokoh pemegang kekuasaan pada saat itu. Ini sekaligus
membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang Universal.
Secara historis, dapat dilihat
strategi politis yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dalam proses penyampaian
dakwah kepada masyarakat. Pada sekitar tahun 610 M, kota Mekkah telah memiliki
bala tentara sekitar 1000 orang yang berarti dapat ditaksir berpenduduk kurang
lebih 5000 orang lebih. Kaum kapitalis takut akan gerakan Nabi Muhammad Saw dan
berperan sebagai oposan. Gerakan politik Nabi Muhammad Saw dimulai sejak
hijrahnya ke Yasrib atau Madinah pada tahun 622 M.[7]
Bahwa sistem manajemen yang
digunakan adalah bertahap dan persuasif, yakni diawali ketika beliau merintis
dakwah mulai dengan cara bersembunyi (sirriy). Setelah kondisinya
kondusif, maka Rasulullah Saw mulai menyebarkan dakwah dengan terang-terangan
(Jahr). Begitu pula ketika melakukan hijrah, nabi menyuruh para sahabat untuk
pindah dari Mekkah ke Madinah terlebih dahulu kemudian baru beliau menyusul,
dan tempat hijrah pun sudah direncanakan atau beliau menyusul, dan tempat
hijrah pun sudah direncanakan atau ditentukan sebelumnya.[8]
Berawal dari kota Madinah kemudian
dikembangkan prinsip-prinsip keteraturan, kedisiplinan, dan kerapian. Nabi
Muhammad Saw dengan cermat memerhatikan kondisi sosiokultural dan geografis
kota Madinah, mempersaudarakan para sahabatnya hingga persatuan dan kesatuan
para sahabat semakin kokoh sehingga perselisihan atau persengketaan dapat
diantisipasi lebih dini, dan semua kondisi tersebut telah direncanakan dengan
cermat sebelumnya. Sebagai tindak lanjut keadaan tersebut, beliau kemudian
menyusun atau mengadakan perjanjian dengan berbagai komponen masyarakat yang
tinggal di Madinah, menyusun kekuatan untuk memperkuat pertahanan untuk
melindungi kota Madinah dari serangan pihak luar.[9]
Muhammad Abdul Jawwad dalam bukunya
“Menjadi Manajer Sukses” menyebutkan, bahwa secara umum dalam
setiap tindakannya potret manajemen dalam kehidupan Rasulullah saw. Meliputi:
1.
Mengatur Tingkatan Dakwah.
“Engkau hadir wahai rasulullah
Saw disaat manusia dalam kekacauan. Mereka selalu berjalan melewati
berhala-berhala dan mereka selalu menuju berhala-berhala tersebut”.
2.
Mengatur Dan Mengatur Pakaian.
“Sesungguhnya kalian akan mengunjungi
kawan-kawan kalian sendiri, maka persiapkanlah perjalanan kalian dengan baik
dan kenakanlah pakaian yang bagus sehingga kalian memiliki kekhasan di mata
orang-orang, sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai hal-hal kotor dan perbuatan
kotor” (HR.
Abu Dawud).
3.
Mengatur Dan Menata Makanan.
“Tidak ada tempat yang sering
dikunjungi oleh anak Adam yang lebih jelek dari perutnya. Sebenarnya cukup bagi
anak Adam untuk memakan beberapa suapan saja untuk meluruskan tulang
belakangnya, kalau memang ia harus melakukan itu, hendaknya sepertiga perutnya
untuk makan, sepertiga yang lain lagi untuk minumnya, dan sepertiga sisanya
untuk nafasnya.” (HR. Ahmad dan Turmudzi).
4.
Mengangkat Pemimpin Dalam Setiap Kelompok.
“Datanglah kepadaku dua belas
pemimpin dari kaum kalian, supaya mereka mewakili urusan-urusan kaumnya! Dan
akhirnya mereka mengirim dua belas pemimpin; sembilan dari kabilah al-Khazraj
dan tiga dari kabilah Aus.”
5.
Mengatur Jalannya Kehidupan.
“Badanmu memiliki hak atas kamu,
keluargamu mempunyai hak atas kamu, orang-orang yang bertemu padamu juga
mempunyai hak atas kamu, karenanya berikanlah hak pada semua orang yang berhak.”
6.
Mengatur Waktu.
“Orang yang berakal hendaknya
memiliki empat waktu: waktu untuk berbisik (meminta pertolongan) kepada Allah
Swt. Waktu untuk membisiki (menginstrospeksi) diri sendiri. Waktu untuk
memikirkan ciptaan Allah, serta waktu senggang untuk makan dan minum”.
7.
Mengatur Cara Penyampaian Dakwah
Ibnu Abbas r.a berkata, “ketika
ayat ‘Dan berikanlah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat’
(As-syura; 274) turun, beliau naik ke bukit Shafa dan berseru ‘Wahai bani Fihr,
wahai bani ‘Adi....’ hingga mereka berkumpul. Pemimpin-pemimpin kaum yang tidak
bisa datang, mengirim utusannya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu
Lahab dan Quraisy juga datang memenuhi seruan rasul. Setelah mereka berkumpul,
Rasulullah Saw. Berkata; ‘Apa pendapat kalian apabila saya memberi tahu kepada
kalian semua, bahwa di balik bukit itu ada sekumpulan pasukan berkuda yang
hendak menyerang kalian, apakah kalian akan memercayaiku?’ Mereka berkata.
‘Kami tidak pernah menemukan kamu berbohong.’ Rasul melanjutkan sabdanya.
“Sesungguhnya saya mengingatkan pada kalian semua akan azab yang sangat pedih”.
Dalam Muhammad al-Ghazali, Fiqhus-Siirah.
8.
Mengatur Langkah-Langkah Strategi Berdakwah.
Kondisi semacam ini bisa terlihat
pada kerapian dan keteraturan yang tampak dalam dialog-dialog Rasulullah Saw.
Dengan sahabat dan para penentangnya yang banyak kita jumpai pada
kitab-kitab sirah.
9.
Mengatur Penempatan Orang Secara Cermat.
Dalam menetapkan segala urusan,
Rasulullah telah menempatkan personel sesuai dengan kapasitas keilmuan mereka
masing-masing. Hal ini dapat dilihat dari penempatan yang diberikan kepada Ali
bin Abi Thalib r.a dan Ustman bin Affan r.a diangkat sebagai pencatat wahyu,
dan apabila mereka berdua sedang tidak ada di tempat maka Ubay bin Ka’ab r.a
dan Zaid bin Tsabit r.a menjadi penggantinya.
Semua kebijakan yang diterapkan oleh
Nabi Muhammad Saw. Tidaklah berjalan secara alamiah saja, melainkan melalui
proses panjang yang memerlukan pemikiran, perencanaan, serta pengorganisasian
yang tepat dan cermat dalam pencapaian tujuan. Maka tidak heran jika pada
akhirnya dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dapat mencapai sukses yang
gemilang.
Uraian tersebut menunjukkan, bahwa
manajemen telah dilaksanakan Nabi Muhammad Saw beserta para sahabatnya setelah
hijrah dari Mekkah ke Madinah. Di Madinah beliau menyusun berbagai keputusan
untuk membangun masyarakat yang dilandasi oleh prinsip-prinsip keimanan,
persamaan hak dan kewajiban antara sesama muslim dan non-muslim melalui
musyawarah untuk menciptakan kerjasama (ta’awun) dalam partisipasi aktif
membangun negara Madinah.
Tindakan Nabi Muhammad Saw mempersatukan penduduk Madinah
menjadi satu umat, menurut Watt, merupakan kesatuan politik model baru.[10]
Penggunaan
manajemen yang tepat dan akurat terhadap objek sasaran dakwah, maka dalam waktu
relatif singkat Nabi Muhammad Saw dapat mengubah tatanan masyarakat jahiliyah
menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi. Demikian juga dalam bidang
kenegaraan, kepemimpinan beliau dapat membentuk Madinah menjadi sebuah negara
super power ketiga setelah Bizantium dan Persia. Ini tidak lepas dari pola yang
yang dikembangkan beliau, yaitu dengan memprioritaskan ikatan kekeluargaan,
sosial-poitik, ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan. Jika dikaitkan dengan
manajemen modern, maka praktek yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad Saw. Lebih
mengarah pada penggunaan manajemen by objective dan manajemen
inovative.
Pelaksaan
manajemen inovatif sangat dibutuhkan bagi kegiatan dakwah sesuai dengan firman
Allah dalam surat ar-Ra’d: 11
¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts† ô`ÏB ÌøBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqß™ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu
mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas
perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merubah
Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah
keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan
sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
[767]
Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara
bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan
yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran
itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[768]
Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah
sebab-sebab kemunduran mereka.
Selanjutnya jika dikaji lebih
cermat, maka manajemen yang digunakan Nabi Muhammad Saw dapat berhasil dengan
sukses, disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1.
Community resources, yaitu meneliti terlebih dahulu
potensi yang dimiliki, baik potensi manusia maupun potensi sumber daya alam.
2.
Community educator, yaitu meneliti secara cermat tingkat pengetahuan dan
tingkat pendidikan masyarakat.
3.
Community developer. Yaitu meneliti secara seksama
orientasi pembangunan yang akan dikembangkan.
2.
Potret Dakwah Khulafah al-Rasyidin
a) Dakwah pada masa Abu Bakar As-Shidiq
Abu Bakar yang memerintah selama dua
setengah tahun tepatnya dua tahun tiga bulan dua puluh hari. Walau masa
pemerintahannya sangat singkat namun sarat dengan amal dan jihad. Di saat Abu
Bakar memerintah tiba-tiba Madinah dikejutkan oleh gerakan yang menggerogoti
sistem Islam yang meluas hampir ke semenanjung Arabia. Bentuk gerakana tersebut
ialah: murtad dari agama Islam karena mengikuti nabi palsu yaitu Musailamah
al-Kadzab, Thulaihah al-Asad dan al-Aswad al-Anasi dari Yaman; keengganan
membayar zakat karena mengikuti Malik ibn Nawiroh dari Bani Tamim.
Selain menghadapi rongrongan dari
dalam Islam sendiri Abu Bakar juga melakukan ekspansi wilayah keluar daerah
diantara hingga mencapai Bashrah, Qatar, Kuwait, Iraq, bahkan hingga daerah
kekuasaan kekaisaran Romawi yang meliputi Mesir, Syiria dan Palestina.
Gerakan dakwah yang paling menonjol
pada Khalifah Abu Bakar ialah pengumpulan Al Qur’an. Alasan utama
dikumpulkannya Al-Qur’an ialah rasa kekhawatiran seorang Umar ibn Khatthab
terhadap masa depan Islam jika kadar intinya yang menjaga Islam dengan Al
Qur’an (Qurra dan Huffadz) gugur satu per satu di medan perang.[11]
b)
Dakwah pada masa Umar ibn Khatthab
a. Penyempurnaan Fath Irak
Irak
dijadikan pangkalan kekuatan kaum Muslimin untuk melakukan perluasan
ke negeri-negeri Persia lainnya. Irak saat itu meliputi kawasan Kuffah (ibu
kota Islam pada masa Ali), kemudian Baghdad (ibu kota Islam pada masa
Abbasiyah), dan Samra yang didirika pada masa Mu’tasyim.
b. Iran
Setelah Irak ditaklukan
negeri-negeri lain di Persia juga ditaklukan, diantaranya negeri-negeri di
seberang sungai. Dengan demikian habislah riwayat Imperium Persia.
c. Syam dan Palestina
Ketika khalifah pertama Abu bakar
meninggal dunia sedang berlangsung di Syam dibawah komando Khalid ibnn Walid,
dibantu oleh Abu Ubaidah ibn Jarrah, Amr ibn Ash, Yazid ibn Abi Sufyan
Syurahbil ibn Hasanah. Ketika Umar diangkat menjadi Khalifah, beliau mengangkat
Abu Ubaidah sebagai panglima teringgi untuk kawasan Syam. Khalid dikirimi surat
pengunduran dirinya sa’at perang sedang berlangsung, pakar sejarah berpendapat
peristiwa ini terjadi pada perang Yarmuk. Khalid menerima keputusan itu, beliau
tetap aktif ikut dalam peperangan dibawah komando Abu Ubaidah. Sebagian ahli
sejarah mengatakan ditunjuk Abu Ubaidah oleh Umar karena lapangan sa’at itu membutuhkan
pemimpin yang kriterianya ada pada Abu Ubaidah, beliau memiliki keahlian dalam
hal lobby dan administrasi, sedangkan keahlian Khalid adalah strategi perang.
d. Yordania
Dalam upaya perluasan daerah
kewilayah ini, kaum muslimin harus mengambil jalan terakhir, yaitu menghadapi
pasukan Romawi yang tidak mau mempersilahkan kaum muslimin melakukan
dakwah secara damai. Kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran.
e. Syiria
Pasukan Islam melanjutan
perjalanannya menuju Dimasyq (damaskus) dibawah komando Ubaidillah ibn Jarrah.
Setelah Syiria tunduk, pasukan bergerak menuju ke utara. Yaitu Hims, Hamat,
Halb, Shoid, dan Bairut.
f. Palestina
Sejak terjadinya peristiwa isra’
mi’raj, negeri Palestina tidak bisa dipisahkan dengan kaum muslimin. Aqhsa
adalah negeri suci ketiga yang diperintahkan kepada kaum muslimin untuk
dikunjungi. Berdasarkan kenyataan tersebut, kaum muslimin betul-betul serius
untuk membebaskan negeri ini dari kekuasaan Romawi. Namun akhirnya mereka
memilih damai dan meminta kepada pasukan agar langsung menghadirkan Umar ibn
Khatthab perihal tersebut. Di pintu negeri Palestina, Umar disambut oleh
Beartrick Ciprunius dan sebagian pemimpin kaum muslimin. Pada kesepakatan itu
Umar membuat kesepakatan untuk memberikan rasa aman, yaitu keamanan harta benda
dan jiwa dan syiar keagamaan kepada penduduk asli. Kesepakatan itu dikenal
dengan perjanjian Umar. Ketika waktu sholat ashar Umar menolak untuk sholat di
gereja Qiamat, tetapi beliau sholat diluarnya, khawatir dikemudian hari kaum
muslimin mengikuti sunnah Umar. Perbuatan Umar ini menegaskan bagaimana
toleransi kaum muslimin dengan orang yang tidak seagama.
g. Ekspedisi kawasan Maghribi
Ekspdisi penyiaran Islam keluar
kawasan Arab kemudian memecah diri ke beberapa penjuru. Disamping gerakan
kearah timur mereka juga bergerak kearah barat. Pasukan sebesar 4000 orang
prajurit muslim bergerak ke Mesir dibawa panglima Amr ibn Ash. Sepanjang
perjalanan tampaknya besar pasukan makin bertambah, sampai mencapai 20.000
orang. Hal ini menimbulkan kesan bagi orang Islam telah membangkitkan daya
tarik untuk bergabung dalam pasukan dibawah panji-panji Islam. Sukses kembali
ada di prajurit berkuda kaum muslimin yang telah terlatih pula. Seruan
kalimat Allahu akbar disetiap medan perang tampaknya
menimbulkan efek ganda. Disatu sisi berhasil membangkitkan semangat dan
ketegaran bagi umat Islam dalam melaksanakan misi suci mereka dalam penyebaran
Islam. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Khalid ibn Walid adalah
menjadikan kota heliopolis sebagai ibu kota Islam di Mesir. Dalam perkembangan
selanjutnya kota ini dikenal dengan sebutan Cairo Lama yang kelak mejadi ibu
kota Mesir.
Setelah mendapatkan izin dan restu
khalifah pasukan Amr ibn Ash meneruskan eksedisinya kawasan matahari tenggelam
dijalur Afrika Utara. Dalam ungkapan bahasa Arab kawasan itu disebut kawasan
Magribi, yang berasal dari dari kata ghurubi syamsy yang
berarti tenggelam matahari.
Tidak seorang prajurit dan orag Arab
berhak atas kawasan baru itu. Semua kawasan dan kekayaan baru langsung menjadi
milik Islam. Penguasa setempat tidak dipaksa untuk memeluk Islam keuali atas
kemauan sendiri. Mereka diberi hak untuk meneruskan kepemimpinan otonom
dikawasan mereka dengan kewajiban untuk membayar pajak perlindungan (jizyah)
kepada kekhalifahan di Madinah.[12]
c)
Dakwah pada masa ‘Utsman ibn ‘Affan
Melalui proses yang panjang, maka
terpilihlah ‘Utsman ibn ‘Affan sebagai khalifah. Pada masa kekhalifahannya
langkah yang diambil ialah sebagai berikut:
a. Perluasan wilayah
Pada masa khalifah ‘Utsman inilah
pertama kali dibentuk angkatan laut untuk menyerang daerah kepulauan yang
terletak di laut tengah. Masa ini juga dibangun kapal perang sehingga dapat
menaklukkan wilayah hingga mencapai Asia dan Afrika, seperti daerah Herat,
Kabul, Ghazni, dan Asia Tengah, juga Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes dan sisa
dari wilayah Persia.
b.
Sosial budaya
Membangun bendungan besar untuk
mencegah banjir dan mengatur pembagian air ke kota. Membangun jalan, jembatan,
masjid, rumah, penginapan para tamu dalam berbagai bentuk serta memperluas Masjid
Nabawi di Madinah.
Namun pada pertengahan kedua
pemerintah ‘Utsman retak ditimpa perpecahan yang disebabkan karena kebijakan
‘Utsman dalam mengganti para gubernur yang diangkat Umar yang didominasi dari
keluarga Bani Umayyah. Sebagai contohnya khalifah ‘Utsman mengganti Sa’ad ibn
Abi Waqash yang merupakan gubernur Kufah dengan Walid ibn Uqbah yang merupakan
saudara se-ibu khalifah ‘Utsman.
c.
Penetapan Mushaf ‘Utsmani
Umat Islam pada masa khalifah
‘Utsman tinggal dalam wilayah yang sangat luas dan terpencar-pencar, sehingga
penduduk masing-masing daerah tersebut membaca ayat-ayat Al Qur’an menurut
bacaan yang mereka pelajari dari tokoh sahabat yang terkenal dari wilayah
mereka (di Syiria masyarakat mengacu pada bacaan Ubay ibn Ka’ab, di Kufah
masyarakat mengacu pada bacaan Abdullah ibn Mas’ud). Persoalan tersebut
menimbulkan perselisihan di kalangan umat Islam.
Untuk mengatasi hal tersebut
khalifah ‘Utsman membentuk sebuah tim yang bertugas untuk menyalin dan
mengkodifikasikan ayat-ayat Al Qur’an ke dalam satu mushaf resmi yang diketuai
oleh Zaid ibn Tsabit. Mushaf tersebut dibuat lima buah, empat buah dikirim ke
wilayah Makkah, Syiria, Kufah, Bashrah dan satu tinggal di Madinah. Mushaf
hasil kerja dari tim kodifikasi Al Qur’an pada masa khalifah ‘Utsman yang
tinggal di Madinah disebut dengan Mushaf ‘Utsmani atau Mushaf Al-Imam yang
sampai sekarang masih kita gunakan, bahan digunakan di selruh penjuru dunia.[13]
d)
Dakwah pada masa Ali ibn Abi Thalib
Sejarah kepemimpinan khalifah Ali
adalah sejarah terakhir masa kekhalifahan umat Islam dalam sejarah setelah masa
kenabian. Pada saat diangkat menjadi khalifah, mewarisi kondisi yang sedang
kacau. Ketegangan politik terjadi akibat pembunuhan atas khalifah ‘Utsman.
Seluruh jabatan gubernur saat itu hampir seluruhnya diduduki oleh keluarga
Umayyah. Para gubernur ini menuntut Ali untuk mengadili pembunuh ‘Utsman.
Gerakan dakwah yang telah dilakukan
oleh khalifah Ali secara garis besar dapat diperinci sebagai berikut:
ü Merombak para pejabat teras,
terutama pejabat yang di dominasi oleh keluarga Bani Umayyah.
ü Menyamakan kedudukan seseorang
dimata hukum. Seperti ketika khalifah Ali menuduh seorang Yahudi mengambil baju
besi kepada hakim. Dipihak Ali memiliki keyakinan bahwa si Yahudi tersebut
mencuri baju besinya, sedangkan di pihak Yahudi bersikukuh bahwa baju besi itu
ia dapat dengan membelinya dari orang lain. Hakim pun kemudian memutuskan bahwa
yang berhak atas baju besi itu adalah si Yahudi karena dari pihak Ali tidak
dapat menghadirkan saksi bahwa baju besi itu milik beliau. Hal inilah yang
membuat si Yahudi terkesima dan terkagum-kagum betapa adilnya hukum Islam,
bahkan karena kejadian ini sampai membuat si Yahudi bersyahadat dan menyatakan
keIslamannya.[14]
B. Peranan
Manajemen Dakwah
Pengetahuan dan teknologi. Pada masa ini penuh dengan
problema yang kompleks, problema tersebut menyangkut politik,
sosial, ekonomi, budaya dan kenegaraan. Untuk mengetasi problema tersebut perlu
adanya ilmu manajemen. Sementara itu, Christher J. Barnard mengemukakan “ Tidak
ada suatu hal untuk akal modern seperti sekarng ini yang lebih penting dari
administrasi dan manajemen”.
Ajaran Islam adalah konsepsi yang sempurna dan komperhensgip.
Karena meliputi aspek kehidupan manusia, betapa pun garis besarnya saja, baik
yang bersifat duniawi dan ukhrawi.
Menurut Mitzbererg peranan manajerial dapat diklasifikasikan
dalam berbagai kegiatan yaitu;
a)
Berkaitan dengan hubungan antar pribadi.
b) Berkaitan dengan informasi.
c)
Berakaitan dengan pengambilan keputusan
Dalam manajemen dakwah, hasil yang difokuskan adalah
sasaran dakwah yang menjadi target bagi aktivitas dakwah yang direalisasikan
dalam bentuk yang konkret. Sehingga diperlukan tindakan kolektif dalam bentuk
kerjasama sesuai dengan kapasitas dan kemempuan yang dimiliki oleh para pelaku
dakwah, yang mampu memberikan hsil yang maksimal secara profesional.[15]
Kapasitas peranan (peran interpersonal, peran
informasi, dan peran desisional) manajemen dakwah dalam hal ini yaitu melakukan
kerja sama secara harmonis yang merupakan usaha kolektif, yang terwujud dalam
sebuah organisasi yang memiliki fungsi dan tugas sesuai dengan bidangnya serta
distur oleh prinsip-prinsip manajemen.
C. Sarana
Manajemen Dakwah
Sarana manejemen dakwah terbagi menjadi dua jenis sarana. Diantara sarana-sarana manajeman yaitu sebagai
berikut :
1. Sarana Yang Bersifat Manajerial
a) Manajemen dengan pengaturan yaitu
manajemen yang didasarkan pada sikap berlebih lebihan tanpa memikirkan aspek
keluar,
b) Manajemen reaksi, manajemen yang
disasarkan pada aspek menunggu reaksi pihak lain,
c) Manajemnen krisis , merupakan sebuah
manjemen yang bersifat insidental,
d) Manajemen bertujuan, manajemen yang
dibangun berdasarkan sikap memperliahtkan tujuan kepada kariawan,
e) Manajemen mengakah, Manajemen dengan
strategi mundur dalam melakukan posisi, dll.
2.
Sedangkan Sarana Manajemen Yang Bersifat Aplikatif
a) Penyediaan sumber daya manusia yang
berkualitas atau memadai.
b) Pengadaai informasi yang tepat dan
akurat
c) Pengadaan alatalat pendukung
d) Pengadaan dakwah yang sesuai dengan
kebutuhan serta dengan kondisi mad’u
e)
Dukungan finansial untuk pendukung sesuai aktifitas lembaga
dakwah.[16]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara klasik manajemen muncul ribuan tahun lalu ketika
manusia sudah melakukasebuah pengorganisasian yang diarahkan kepada orang orang
yang bertanggung jawab atas perencanaan, pemimpin dan pengendalian kegiatan
manusia. Dalam prinsip manajemen islam, dalam
sejarah perkembangannya manajemen
dipengarui oleh agama, tradisi, adat istiadat dan sosial budaya. Maka islam
dalam memandang manajemen berdasarkan teologi, yakni pada dasarnya manusia
memiliki potensi positif yang dilukiskan dengan istilah hanif. Rasulullah
saw., berdakwah pada
periode Mekkah yang berlangsung selama sepuluh tahun, prioritas utama dakwahnya
adalah perubahan seorang Arab menjadi seorang muslim. Setelah pasca-Mekkah atau
lebih dikenal periode Madinah barulah dilakukan pembinaan masyarakat Islam. Pada periode Madinah Islam tampil
menjadi dua kekuatan, yaitu kekuatan dunia dan kekuatan spiritual. Dalam
periode Madinah banyak terobosan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.
Pengetahuan dan teknologi. Pada masa ini penuh dengan
problema yang kompleks, problema tersebut menyangkut politik,
sosial, ekonomi, budaya dan kenegaraan. Untuk mengetasi problema tersebut perlu
adanya ilmu manajemen. Kapasitas peranan (peran
interpersonal, peran informasi, dan peran desisional) manajemen dakwah dalam
hal ini yaitu melakukan kerja sama secara harmonis yang merupakan usaha
kolektif, yang terwujud dalam sebuah organisasi yang memiliki fungsi dan tugas
sesuai dengan bidangnya serta distur oleh prinsip-prinsip manajemen.
Sarana manejemen dakwah terbagi menjadi dua jenis sarana. Diantara sarana-sarana manajeman yaitu sarana yang
bersifat manajerial dan sedangkan sarana manajemen yang bersifat aplikatif
B.
Saran
Makalah yang memuat
pembahasan tentang sejarah,
peranan, dan sarana manajemen dakwah ini sangatlah
jauh dari kesempurnaan, maka
saran dan kritik sangat
kami harapkan demi perbaikan makalah ini. Kedepannya kami akan lebih fokus dan
detail dalam menjelaskan materi ini dengan
berbagai sumber referensi yang lebih banyak yang tentunya dapat
dimanfaatkan dan dipertanggung jawabkan. Semoga makalah ini dapat berguna bagi
kami pada khususnya, dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Amin, Samsul Munir M.A. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah.
H.
Zainal Muchtarom. 1996. Dasar-Dasar Manajemen Dakwah. Yogyakarta: Al-Amin Press.
Illahi, Wahyu dan Harjani Efendi. 2007. Sejarah Dakwah. Jakarta :
Prenada Media Group.
Iqbaal Ramazhaan. 2014. “Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin”. Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
Irfan Taufik. 2016. “Sejarah
Manajemen Dakwah”. Dikutip dari http://irfantaufik26.blogspot.co.id/2016/03/manajemen-dakwa-pembahasan-arti-sejarah.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.12.
Munir
dan Wahyu Illahi. 2006. Manajemen Dakwah. Jakarta: Rahmat Semesta.
Munir, Muhammad
dan Wahyu Ilaihi. 2006. Manajemen Dakwah.
Jakarta : Kencana Prenada Media.
Niezam Uchiha. 2016. “Manajemen Dakwah Rosulullah saw.”. Dikutip
dari http://sains39.blogspot.co.id/2016/01/manajemen-dakwah-rosulullah-saw.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.03
Sahrul Taufik. 2013.
“Sejarah Manajemen Dakwah”. Dikutip dari http://arulyuy.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-manajemen-dakwah.html. Pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.00.
[1]Muhammad
Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah,
(Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006), hlm. 37.
[2]Sahrul Taufik, “Sejarah Manajemen Dakwah”, Dikutip dari http://arulyuy.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-manajemen-dakwah.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.00.
[3]Muhammad
Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm.
39.
[4]Irfan Taufik, “Sejarah Manajemen Dakwah”, Dikutip dari http://irfantaufik26.blogspot.co.id/2016/03/manajemen-dakwa-pembahasan-arti-sejarah.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.12.
[5]Muhammad
Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm.
48.
[6]Munir dan Wahyu Illahi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Rahmat Semesta, 2006), hlm. 49.
[7]Muhammad
Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm.
40.
[8]Drs. Samsul Munir Amin, M.A, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 231.
[9]H. Zainal Muchtarom, Dasar-Dasar
Manajemen Dakwah, (Yogyakarta: Al-Amin Press,
1996), hlm. 35.
[10]Niezam Uchiha, “Manajemen Dakwah Rosulullah saw.”, Dikutip dari http://sains39.blogspot.co.id/2016/01/manajemen-dakwah-rosulullah-saw.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.03
[11]Iqbaal Ramazhaan, “Sejarah
Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin”, Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
[12]Wahyu Illahi dan Harjani Efendi, Sejarah Dakwah, (Jakarta : Prenada Media Group, 2007), Edisi Pertama Cetakan Ke-1, hlm. 94.
[13]Iqbaal Ramazhaan, “Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur
Rasyidin”, Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
[14]Iqbaal Ramazhaan, “Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur
Rasyidin”, Dikutip dari http://humamiqbalazizi.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-dakwah-pada-masa-khulafaur.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.13.
[15]Muhammad
Munir dan Wahyu Ilaihi, op. cit, hlm.
69.
[16]Irfan Taufik, “Sejarah Manajemen Dakwah”, Dikutip dari http://irfantaufik26.blogspot.co.id/2016/03/manajemen-dakwa-pembahasan-arti-sejarah.html, pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 08.12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar