TEORI-TEORI DALAM BELAJAR MELIPUTI BEHAVIORISME,
KOGNITIF, DAN HUMANISTIK
Disusun oleh :
Kelompok :
5
(Lima)
Nama :
1.
Ahmad Ardiwang (16
0201 0152)
2.
Fahreza Aidhil Madini (16
0201 0126)
3.
Nurul Falah (16
0201 0105)
4.
Sabaria (16
0201 0135)
5.
Sukri (16
0201 0136)
6.
Varsella Aprillian Amrul (16 0201 0145)
Kelas : PAI-D
Semester :
II
(Dua)
Dosen : Muh. Idris Hasanuddin, M.A
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PALOPO
2016/2017
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nyalah sehingga
kami dapat menyelesaikan penulisan Makalah Psikologi Pendidikan yang berjudul Teori-Teori Dalam Belajar Meliputi Behaviorisme,
Kognitif, Dan Humanistik
Terselesaikannya
Makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak, sehingga pada kesempatan
ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Guru psikologi
pendidikan kami ustad Muh. Idris Hasanuddin, M.A., Karena atas
kesempatan yang telah diberikan kepada kami dalam pembuatan makalah ini.
2.
Teman-teman
mahasiswa/mahasiswi yang selalu memberi semangat dan motifasi untuk kami dalam
penyelesaian Makalah ini.
Penulisan
Makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, informasi yang kurang banyak, sistematika
yang masih kurang bagus, masih kurangnya pengetahuan kami tentang macam-macam
Materi. Sehingga pada kesempatan ini kami mengharapkan kritik serta saran dari
teman-teman dan para pembaca untuk penulisan makalah kedepannya.
Semoga dengan
adanya Makalah ini teman-teman serta pembaca bisa menambah pengetahuan dan
semoga kedepannya kita bisa menyelesaikan penulisan karya-karya tulis lain
dengan lebih baik lagi.
Palopo, 9 Maret
2017
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah..................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C.
Tujuan
Penulisan................................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori Belajar
Behaviorisme................................................................ 3
B.
Teori Belajar
Kognitif........................................................................ 6
C.
Teori Belajar
Humanistik.................................................................... 10
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan......................................................................................... 14
B.
Saran................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA`.................................................................................. 15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Perkembangan teknologi di zaman modern seperti
sekarang ini, mengubah perkembangan pola kerja berbagai bidang khususnya bidang
pendidikan. Perkembangan di bidang pendidikan mengubah pola pikir kita semua
akan pentingnya sebuah pendidikan bagi kehidupan kita kedepannya.
Hampir seluruh negara yang ada di dunia ini menanggap
bahwa persoalan pendidikan adalah persoalan yang pelik untuk dibicarakan namun
i lain sisi pendidikan dianggap sebagai salah pekerjaan yang wajib untuk di
laksanakan karena pendidikan dianggap sebagai langkah untuk membuat suatu
negara menjadi maju, membangun serta memperbaiki keadaan masyarakat negara
tersebut. Pendidikan juga dianggap sebagai kunci keberhasilan.
Dewasa ini, pendidikan bukan hanya akan di dapatkan di
sekolah-sekolah saja melainkan dapat juga didapatkan di berbagai media
elektronik yang menjadi salah-satu bukti kemajuan sebuah pendidikan. Di
berbagai Negara seorang peserta didik di tuntut agar menyelesaikan pendidikan
di tingkat yang paling tinggi dan mendapatkan pengetahuan yang dapat bermanfaat
kelak.
Begitu juga dengan lembaga pendiikan
di Indonesia, seorang mahasiswa yang melanjutkan pendidikannya pada program
studi pendidikan dituntut agar menguasai bidang tersebut agar kelak dapat
bekerja secara maksimal. Salah satu contohnya yaitu dengan mempelajari mata
kuliah dasar dari penidikan. Seorang mahasiswa/mahasiswi pendidikan tentu tidak
lepas dari mata kuliah Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata
kuliah keahlian di program studi tersebut. Keberadaan mata kuliah tersebut
sangat penting untuk memberi wawasan dan
pemahaman kepada mahasiswa/mahasiswi tentang pentingnya sikologi ketika telah
mengajar nantinya.
Dalam mata kuliah Psikologi
Pendidikan kegiatan belajar dan mengajar akan selalu di kaitkan dengan
ilmu kejiwaan walaupun sesunggunya memiliki makna yang berbeda. Begitu juga
dengan teori belajar yang terdapat pada mata kuliah Psikologi
Pendidikan, materi ini tak luput pula untuk di pelajari oleh
mahasiswa/mahasiswi program studi pendidikan sebab dengan mempelajari materi
ini seorang calon pendidik kedepannya dapat dengan mudah mendidik peserta
didiknya.
Melihat
akan pentingnya materi tentang teori belajar untuk dipelajari oleh seorang
calon pendidik, kami membuat suatu karya tulis yang tersusun dalam satu makalah
sederhana yang memuat beberapa teori-teori inti dalam belajar.
B.
Rumusan Masalah
Setiap
penulisan sebuah Makalah tentu memiliki rumusan masalah, dan pada Makalah ini
rumusan masalah yaitu :
1.
Apa yang
dimaksud dengan teori belajar behaviorisme?
2.
Apa yang
dimaksud dengan teori belajar kognitif?
3.
Apa yang
dimaksud dengan teori belajar humanistik?
C.
Tujuan
Penulisan
Disetiap penulisan
Sebuah Makalah tentu memiliki tujuan penulisan, dan pada Makalah tujuan
penulisan yaitu :
1.
Sebagai syarat
dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan.
2.
Memberikan
Informasi kepada teman-teman dan para pembaca tentang beberapa teori dalam belajar
yaitu behaviorisme, kognitif, dan humanistik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori Belajar
Behaviorisme
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan
dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap
rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap
perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam
menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan
tindakan yang diinginkan.
Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan
dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas.
Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan
perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Salah satu teori belajar behavioristik adalah teori classical conditioning
dari Pavlov yang didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri
seseorng serta gerak refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov,
penguatan berperan penting dalam mengkondisikan munculnya respons yang
diharapkan. Jika penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan
sendiri, maka respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu
saat respons tersebut dapat muncul kembali.
Ciri dari teori behavioristik adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis,
menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon,
menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil
belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah
munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah
hasil belajar.
a. Prinsip Dasar Behaviorisme
ü Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai
perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
ü Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo
problem untuk sciene, harus dihindari.
ü Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah
satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
ü Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi
oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan
akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan
mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt
behavior tetap terjadi.
ü Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan
bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
ü Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu
behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
b. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar
pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan
pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan
pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat
materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran
yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori
behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan
rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau
pebelajar. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus
dipahami oleh murid.
Demikian halnya dalam pembelajaran, pelajar
dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan
dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang
terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses
pembelajaran yang harus dicapai oleh para pelajar. Begitu juga dalam proses
evaluasi belajar pelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati
sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses
evaluasi.
Ada beberapa tokoh teori behavioristik. Tokoh-tokoh aliran behavioristik tersebut antaranya adalah Thorndike,
Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas
karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam
pembelajaran.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses
interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang
terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang
dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran,
perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan
belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit
yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan
teori koneksionisme.
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses
interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud
harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui
adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar,
namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu
diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris
murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain
seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik
semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan
antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia
sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya
teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar
organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan
biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah
penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga
stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan
kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud
macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan
dengan kondisi biologis.
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan
stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali
cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan variabel
hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.
Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi
stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar
hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan
mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon
bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu
sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat
lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment)
memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat
yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus
respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus
dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang
mungkin diabaikan oleh anak.
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang
belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan
konsep belajar secara sederhana, namun lebihkomprehensif. Menurut Skinner
hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan
lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah
sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon
yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang
diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan
mempengaruhi respon yang dihasilkan.
Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku.
Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus
memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami
konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul
akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah
laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan
perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Aliran psikologi belajar yang sangat besar
pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan
pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
B. Teori Belajar Kognitif
Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori
belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Teori belajar behavioristik
menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga
hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung
tertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh
Ahmadi dan Supriono bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya”.
Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan
suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan
oleh Winkel bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.
Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses
usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai
akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu
perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan
nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
Menurut teori belajar kognitif pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah
laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat
perkembangan dan pemahamannya atas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kepercayaan, ide-ide dan prinsip yang dipilih untuk
kepentingan dirinya.
Teori kognitif berasal dari teori kognitif dan
teori psikologi. Aspek kognitif mempersoalkan bagaimana seseorang memperoleh
pemahaman mengenai dirinya dan lingkungannya dan bagaimana ia berhubungan
dengan lingkungan secara sadar. Sedangkan aspek psikologis membahas masalah
hubungan atau interaksi antara orang dan lingkungan psikologisnya secara
bersamaan. Psikologi kognitif menekankan pada penting proses internal atau
proses-proses mental.
Menurut teori belajar kognitif, belajar
merupakan proses-proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
Adapun tujuan teori ini adalah:
a. Membentuk hubungan yang teruji, teramalkan dari tingkah laku orang-orang
pada ruang kehidupan mereka sendiri secara spesifik sesuai dengan situasi psikologisnya.
b. Membantu guru untuk memahami orang lain, terutama muridnya, dan membantu
dirinya sendiri
c. Mengkonstruksi prinsip-prinsip ilmiah yang dapat diterapkan dalam kelas dan
untuk menghasilkan prosedur yang memungkinkan belajar menjadi produktif.
d. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman
atas diri dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungannya
merupakan faktor yang saling berkaitan.
Perbedaan pandangan teori kognitif dan teori behaviorisme adalah sebagai berikut.
a. Teori kognitif menekankan pada fungsi-fungsi psikologis, sedangkan teori
behaviorisme pada segi fisiknya saja.
b. Teori kognitif berfokus pada situasi saat ini, sedangkan teori behaviorisme
pada sejarah masa lalu.
c. Dalam proses kognitif terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungannya
secara simultan dan saling membutuhkan.
Prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif
dapat dirumuskan sebagai berikut.
a. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berpikir,
perhatian, persepsi, pemecahan masalah, dan kesadaran
b. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada
akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku siswa yang tampak,
seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, disamping itu juga harus memperhatikan
faktor manusia dan lingkungan psikologisnya.
c. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berpikir setiap orang tidak sama dan
tidak tetap dari waktu ke waktu.
Ada beberapa
tokoh teori kognitif. Tokoh-tokoh aliran behavioristik tersebut
antaranya adalah:
1. Teori Belajar Kognitif Gestalt
Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya
teori belajar gestalt. Peletak dasar teori gestalt adalah Merx Wertheimer yang
meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya diikuti oleh Kurt
Koffka yang menguraikan secara terperinci tentang hokum-hukum pengamatan,
kemudian Wolfgang Kohler yang meneliti tentang insight pada simpase. Kaum
gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam
suatu keseluruhan. Menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar
menggunakan pemahaman terhadap hubungan hubungan, terutama hubungan antara
bagian dan keseluruhan. Intinya, menurut mereka, tingkat kejelasan dan
keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih
meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran.
2. Teori Belajar Cognitive-Field Dari Lewin
Kurt Lewin mengembangkan suatu teori belajar kognitif-field dengan menaruh perhatian
kepada kepribadian dan psikologi social. Lewin memandang masing-masing individu
berada di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan dimana
individu bereaksi disebut life space. Life space mencankup perwujudan
lingkungan di mana individu bereaksi, misalnya ; orang – orang yang
dijumpainya, objek material yang ia hadapi serta fungsi kejiwaan yang ia
miliki. Jadi menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan
dalam struktur kognitif. Perubahan sruktur kognitif itu adalah hasil dari dua
macam kekuatan, satu dari stuktur medan kognisi itu sendiri, yang lainya dari
kebutuhan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan lebih penting
pada motivasi dari reward.
3. Teori Belajar Cognitive Developmental Dari Piaget
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses
berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju
abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya
mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang
mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas
mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada.
Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Pada
intinya, perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi. Kepada siswa harus
diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tak
daapat belajar dari apa yang telah diketahuinya.
4. Jerome Bruner Dengan Discovery Learningnya
Yang menjadikan dasar ide J. Bruner ialah
pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di
dalam belajar di kelas. Untuk itu bruner memakai cara dengan apa yang
disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisasi bahan
pelajaran yang dipelajarai dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat
kemajuan anak tersebut. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan
kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang
scientist, historian atau ahli matematika. Biarkan murid kita menemukan arti
bagi diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di
dalam bahasa yang mereka mengerti.
5. Teori Belajar Vygostky
Tokoh kontruktivis lain adalah Vygotsky. Sumbangan penting teori Vygotsky
adalah penekanan pada hakekatnya pembelajaran sosiokultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek
“internal” dan “eksternal” dari pebelajaran dan penekanannya pada lingkungan
sosial pebelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari
interaksi sosial masing – masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga
yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas – tugas
yang belum dipelajari namun tugas- tugas itu berada dalam “zone of proximal
development” mereka. Zone of proximal development adalah jarak antara tingkat
perkembangan sesungguhnya yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah
secara mandiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan
dalam kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman
sebaya yang lebih mampu.
Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“.
Scaffolding adalah memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan
selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi
bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih
tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri.
Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan
menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
a. Pandangan-Pandangan Teori Kognitif
Tidak seperti halnya belajar menurut perspektif
behavioris dimana perilaku manusia tunduk pada peneguhan dan hukuman, pada
perspektif kognitif ternyata ditemui tiap individu justru merencakan respons
perilakunya, menggunakan berbagai cara yang bisa membantu dia mengingat serta
mengelola pengetahuan secara unik dan lebih berarti. Teori belajar yang berasal
dari aliran psikologi kognitif ini menelaah bagaimana orang berpikir,
mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah. Hal yang menjadi pembahasan
sehubungan dengan teori belajar ini adalah tentang jenis pengetahuan dan
memori.
b. Jenis Pengetahuan
Menurut pendekatan kognitif yang mutakhir,
elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh
tiap individu kepada situasi belajar.
Perspektif kognitif membagi jenis pengetahuan
menjadi tiga bagian, yaitu:
·
Pengetahuan Deklaratif,
yaitu pengetahuan yang bisa dideklarasikan biasanya dalam bentuk kata atau singkatnya
pengetahuan konseptual. Pengetahuan deklaratif rentangnya sangat beragam, bisa
berupa pengetahuan tentang fakta (misalnya, bumi berputar mengelingi matahari
dalam kurun waktu tertentu), generalisasi (setiap benda yang di lempar ke
angkasa akan jatuh ke bumi karena adanya gaya gravitasi), pengalaman pribadi
(apa yang diajarkan oleh guru sains secara menyenangkan) atau aturan (untuk
melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan maka pembilang harus
disamakan terlebih dahulu).
·
Pengetahuan Prosedural, yaitu pengetahuan tentang
tahapan yang harus dilakukan misalnya dalam hal pembagian satu bilangan ataupun
cara kita mengemudikan sepeda, singkatnya “pengetahuan bagaimana”.
·
Pengetahuan Kondisional, adalah pengetahuan
dalam hal “kapan dan mengapa” pengetahuan deklaratif dan prosedural digunakan.
C.
Teori Belajar
Humanistik
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah
untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus
berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan
sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Peran guru dalam teori
ini adalah sebagai fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan
motivasi,kesadaran mengenai makna kehidupan siswa. Guru mamfasilitasi
pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan
pembelajaran. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia
mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik- baiknya. Siswa berperan sebagai
pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si
siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik
melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :
1) Proses pemerolehan informasi baru,
2) Personalia informasi ini pada individu.
Tokoh penting dalam teori belajar humanistik
secara teoritik antara lain adalah:
1. Teori Belajar Menurut Arthur Combs
Bersama dengan Donald Snygg mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna
atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila
mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak
disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika
atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan
merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya.
Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang
untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia
persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus
berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat
bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar
apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal
arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah
bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi
pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia
seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada
satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan
besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari
persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal
yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
2. Teori Belajar Menurut Abraham H. Maslow
Maslow mengatakan, mengatakan bahwa ada beberapa
kebutuhan yang perlu dipenuhi oleh setiap manusia yang siratnya hierarkis. Pemenuhan
kebutuhan dimulai dari kebutuhan terendah, selanjutnya meningkat pada kebutuhan
yang lebih tinggi. Kebutuhan tersebut adalah. : Kebutuhan jasmaniah, Kebutuhan
keamanan, Kebutuhan kasih sayang, Kebutuhan harga diri, Kebutuhan aktualisasi
diri.
Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini
mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu
ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini
mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi. Lebih jauh
Maslow mengatakan, hierarki kebutuhan manusia tersebut mempunyai implikasi
penting bagi individu peserta didik. Oleh karenanya, pendidik harus
memerhatikan kebutuhan peserta didik sewaktu beraktivitas di dalam kelas.
Seorang pendidik dituntut memahami kondisi tertentu, misalnya, ada peserta
didik tertentu yang sering tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, atau ada yang
berbuat gaduh, atau ada yang tidak minat belajar. Menurut Maslow, minat atau
motivasi untuk belajar tidak dapat berkembang jika kebutuhan pokoknya tidak
terpenuhi. Peserta didik yang datang ke sekolah tanpa persiapan, atau tidak
dapat tidur nyenyak, atau membawa persoalan pribadi, cemas atau takut, akan
memiliki daya motivasi yang tidak optimal, sebab persoalan-persoalan yang dibawanya
akan mengganggu kondisi ideal yang dia butuhkan.
3. Teori Belajar Menurut Carl Ransom Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik
yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara
klien dan terapis) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah
kehidupannya. Carl Rogers menyakini bahwa berbagai masukan yang ada pada diri
seseorang tentang dunianya sesuai dengan pengalaman pribadinya. Masukan-masukan
ini mengarahkannya secara mutlak ke arah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dirinya.
Rogers menegaskan, dalam pengembangan diri seorang pribadi akan berusaha keras demi
aktualisasi diri (self actualisation), pemeliharaan diri (self maintenance),
dan peningkatan diri (self inhancement).
Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
·
Kognitif (kebermaknaan)
·
experiential ( pengalaman atau signifikansi)
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses
pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan
pembelajaran, yaitu: Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk
belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang
tidak ada artinya. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti
mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Charles Bouille (sekitar 1475-1553)
Charles Bouille adalah seorang humanis Prancis,
dalam bukunya yang berjudul De Sapiente. Dalam buku ini dia mensejajarkan
manusia yang cerdas dengan Phyromitos. Kesejajaran ini terletak pada akal yang
diberikan kepada manusia agar bisa menyempurnakan tabiatnya. Dengan
penelitian-penelitian teoritis yang efektif, dan dengan keyakinannya yang
ekstrim, Bouille mengupas soal kelayakan dan kapabilitas manusia untuk
membentuk kehidupannya sendiri di dunia. Keyakinan inipun menjadi semakin tajam
dengan kemajuan-kemajuan skeptisisme yang dicapai humanisme di luar Italia pada
abad pertengahan.
a. Tiga Teori Behavioristik
Ada tiga jenis teori menurut teori behaviorisme
yang perlu di pelajari secara mendalam sebagai seorang guru, yaitu teori
Respondent Conditioning, Operant Cnditioning, dan Observational Learning atau
Sosial-Cognitive Learning.
1. Teori Responden Learning
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap
seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika
dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi
sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
b. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks
yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali
tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
2. Operant Conditioning
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner
terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan
stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah
diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka
kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
3. Observational Learning atau Social-Cognitive Learning
Teori belajar sosial atau disebut juga teori
observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru
dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut
Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata
refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang
timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu
itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari
individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan
(imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih
memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment,
seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu
dilakukan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan
yang telah tertera pada bab sebelumnya kami dapat menarik kesimpulan yaitu :
Ada
3 teori inti dalam belajar yaitu : teori behaviorisme, teori kognitif, dan
teori humanistik. Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan
dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap
rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap
perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam
menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan
tindakan yang diinginkan.
Teori kognitif berasal dari teori kognitif dan
teori psikologi. Aspek kognitif mempersoalkan bagaimana seseorang memperoleh
pemahaman mengenai dirinya dan lingkungannya dan bagaimana ia berhubungan
dengan lingkungan secara sadar. Sedangkan aspek psikologis membahas masalah
hubungan atau interaksi antara orang dan lingkungan psikologisnya secara
bersamaan. Psikologi kognitif menekankan pada penting proses internal atau
proses-proses mental.
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan
dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun
ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
B.
Saran
Teman-teman
Mahasiswa dan para pembaca yang ingin lebih mengetahui lebih dalam tentang
materi seperti diatas sebaiknya mencari
literatur-literatur/refesensi-referensi yang ada di Internet maupun buku-buku
karena pengetahuan yang kami sampaikan masih sangat sedikit. Dan untuk para
pembaca yang ingin membuat makalah dengan judul serupa sebaiknya lebih baik
lagi mengambil ilmu pengetahuan dari berbagai sumber agar makalah kedepannya
lebih baik dari makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Adi Nurdin. http://www.contohmakalah.id/2015/02/makalah-psikologi-behavioristik.html. 8 Maret 2017 pukul 14:54 Wita.
Anonim.www.sekolahdasar.net/2011/03/teori-belajar-behavioristik-kognitif.html. 8 Maret 2017 pukul 15:10 Wita.
Hasanudin. http://hasanudin-bio.blogspot.co.id/2011/05/teori-belajar-behaviorisme-kognitif.html. 8 Maret 2017 pukul 15:00 Wita.
Sakirpan. http://irpan-bebas.blogspot.co.id/2012/02/teori-belajar-behavioristik-kognitif.html. 8 Maret 2017 pukul 14:45 Wita.
Soemanto, Wasty. 1983. Psykologi Pendidikan. Malang: Rineka
Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar