DINASTI
MUWAHHIDUN MELIPUTI PROSES DAN PERKEMBANGAN, KEMAJUAN YANG DICAPAI, DAN PROSES
KEMUNDURAN DINASTI MUWAHHIDUN
Disusun Oleh :
Kelompok :
10
(Sepuluh)
Nama :
1.
Sulyadi (16
0201 0142)
2.
Varsella Aprillian Amrul (16 0201 0145)
3.
Nurhasanah (16 0201 0148)
Kelas : PAI-D
Semester :
III
(Tiga)
Dosen : Makmur, S.Pd.I,
M.Pd.I
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PALOPO
TAHUN
AJARAN 2017/2018
KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nyalah sehingga kami dapat
menyelesaikan penulisan Makalah Sejarah Peradaban Islam II yang berjudul Dinasti Muwahhidun Meliputi Proses Dan Perkembangan,
Kemajuan Yang Dicapai, Dan Proses
Kemunduran Dinasti Muwahhidun.
Terselesaikannya
Makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari beberapa pihak, sehingga
pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Guru
Sejarah Peradaban Islam kami Ustad Makmur., S.Pd.I, M.Pd.I. Karena atas
kesempatan yang telah diberikan kepada kami dalam pembuatan dan penyelesaian makalah
ini.
2.
Kedua
Orang Tua kami, yang senantiasa mendukung, menuntun kami dalam hidup ini dengan
doa yang tulus.
3.
Teman-teman
mahasiswa/mahasiswi yang selalu memberi semangat dan motifasi untuk kami dalam
penyelesaian Makalah ini.
Penulisan
Makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, informasi yang kurang banyak, sistematika
yang masih kurang baik, masih kurangnya pengetahuan kami tentang Materi. Namun
dari itu semua Materi dalam Makalah ini telah mencamtumkan inti dari pola
permasalahan yang dibahas sehingga mahasiswa/mahasiswi bisa dengan mudah
memahami Materi.
Pada kesempatan ini kami juga mengharapkan
kritik serta saran dari teman-teman mahasiswa/mahasiswi dan para pembaca untuk
penulisan Makalah yang lebih baik lagi kedepannya.
Semoga
dengan adanya Makalah ini teman-teman mahasiswa/mahasiswi serta pembaca bisa menambah pengetahuan dan
semoga kedepannya kita bisa menyelesaikan penulisan karya-karya tulis lain dengan
lebih baik lagi.
Palopo,
19 September 2017
Penyusun Kelompok 10
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah............................................................................ 1
B.
Rumusan
Masalah..................................................................................... 3
C.
Tujuan
Penulisan....................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Proses Dan Perkembangan Dinasti Muwahhidun..................................... 4
B.
Kemajuan Yang Dicapai Dinasti Muwahhidun........................................ 8
C.
Proses Kemunduran Dinasti Muwahhidun............................................... 10
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan Penulisan............................................................................... 14
B.
Saran-Saran............................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Umat Islam sekitar abad ke-12 secara
mentalitas boleh dikatakan semangatnya
sudah pudar, apalagi untuk mengembangkan intelektualitasnya. Kekalahan yang diderita ketika pasukan salib berhasil menguasai beberapa daerah kekuasaan Islam di Timur Tengah, sehingga secara perlahan tradisi keilmuan mulai hilang di dunia Islam yang membawa kepada sebagian
umat Islam menyibukkan diri dengan
beribadah kepada Tuhan untuk mendapatkan posisi yang baik di sisi Allah. Akibatnya muncullah kelompok-kelompok kecil yang
lebih memfokuskan pikiran untuk
memberantas kelompok-kelompok yang telah salah paham dalam memahami Islam.
Sejak pertama kalai menginjakkan
kaki di tanah Andalusia (Spanyol), masa penaklukan Islam oleh Thariq bin Ziad
hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan sangat
besar. Pada priode ini, daulah Umayyah Spanyol mencapai puncaknya menyaingi
Daulah Abbasiyah di Bagdad. Apalagi ketika telah didirikannya Unversitas
Cordova, perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku, pembangunan kota
berlangsung cepat dan rakyat dapat menikmati kemakmuran dan kesejehteraan. Maka
banyaklah para pencari ilmu pengetahuan memperdalam ilmu mereka di Andalusia
terutama bangsa-bangsa Eropa.
Masa tersebut dikenal sebagai masa
Daulah Umayyah II. Masa tersebut berlangsung lebih kurang tujuh setengah abad
lamanya. Dalam kurun waktu 750 tahun tersebut. pada masa Islam di Andalusia
ini, tentulah banyak hal yang bisa disumbangkan Islam dalam wilayah tersebut, sehingga
kalau saat ini kita berada di Spanyol kita akan melihat masih banyak
peninggalan-peninggalan bersejarah Islam yang terdapat disana.
Sehingga ketika umat Islam di
Spanyol memasuki masa disintegrasi masih terdapat terdapat kekutan besar yang
dominan, yaitu dinasti Murabithun dan dinasti Muwahhidun. Meskipun dua dinasti
ini pada mulanya merupakan gerakan keagamaan akhirnya menjadi suatu gerakan yang
berbentuk pasukan dan berhasil menguasai beberapa daerah Andalusia yang telah
dikuasai Kristen.
Dinasti
Muwahhidun yang bermula dari gerakan keagamaan dan berubah menjadi gerakan
politik. Gerakan keagamaan tersebut dipelopori oleh Ibn Tumart yangberaliran
Asy’ariah. Para sejarawan menyebutnya sebagai Dinasti Muwahhidun (orang yang
mengesakan Tuhan) ketika kekuasaan politik telah dikuasainya. Berkat usaha dan
perhitungan yang matang maka tercapailah sebuah kekuasaan politik oleh gerakan
tersebut meliputi Afrika bagian utara dan Spanyol (Andalusia) di barat yang
pada masa sebelumnya di bawah kekuasaan Murabitun. Namun karena kondisi yang
kurang mendukung, sekitar abad ke-13M dunia Barat bangkit dengan kekuatan baru
membuat Muwahhidun lenyap dari Andalusia kecuali Islam di Granada yang pada
saat itu di kuasai oleh Bani Nasr dari kerajaan Arab Madinah.
B. Rumusan
Masalah
Di setiap penulisan Makalah tentu memiliki
rumusan masalah. Adapun rumusan masalah dalam penulisan pada Makalah ini adalah :
1.
Bagaimana proses
dan perkembangan Dinasti Muwahhidun?
2.
Bagaimana kemajuan yang dicapai Dinasti Muwahhidun?
3.
Bagaimana proses kemunduran Dinasti Muwahhidun?
C.
Tujuan Penulisan
Disetiap penulisan Sebuah Makalah tentu memiliki tujuan penulisan, dan
pada Makalah tujuan penulisan yaitu :
1. Sebagai Syarat dalam menyelesaikan tugas
mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.
2. Memberikan Informasi kepada teman-teman dan
para pembaca tentang beberapa hal yang terkait dengan
Masa Dinasti
Muwahhidun.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses dan Perkembangan
Dinasti Muwahhidun
Kekuasaan Dinasti Muwahhidun tumbuh dan berkembang di Afrika Utara dan
Spanyol. Kelahiran Muwahhidun ini bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam yang
telah dikotori orang-orang Murabhitun pada fase akhir kekuasaannya. Dinasti ini
mampu meraih kejayaan karena pemimpin yang kuat serta cinta ilmu pengetahuan.
Kehadiran dinasti Muwahhidun ini telah
membuka mata orang barat tentang pencapaian peradaban
ummat manusia.
Dinasti
Muwahhidun adalah sebuah dinasti yang pernah berkuasa di Afrika Utara bagian
barat. Dinasti yang didirikan oleh Muhammad ibn Tumart ini pernah eksis sekitar
satu abad setengah, yaitu 1121-1269 M. Ibn Tumart sendiri berasal dari salah
satu suku Barbar, dari kabilah Masmudah, yang hidup di pedalaman Afrika Utara.
Dalam perkembangan dan perjalanan selanjutnya kepemimpinan (khalifah)
Muwahhidun bukan dipegang oleh suku Barbar dari kalangan Arab, yaitu keturunan
Abdul Mu’min bin Ali.[1]
Terbentuknya
Dinasti Muwahhidun (1090-1147) beranjak dari kondisi Afrika Utara pada waktu
kekuasaan Dinasti Murabithun mulai melemah. Wafatnya Yusuf bin Tasyufin pada
tahun 1106 M, berakibat buruk bagi Murabithun, karena pemimpin-pemimpin setelah
dia adalah orang-orang yang lemah. Kondisi semakin kacau ketika pimpinan
fuqaha’ dipegang oleh seorang sufi yang ekstrim dan mulai menyimpang dari
ajaran al-Qur’an dan Sunnah (paham tajassum/mengatakan bahwa Tuhan mempunyai
bentuk seperti tubuh manusia). Kehidupan masyarakat sudah materialistis, di
samping terjadinya stagnasi dalam pemikiran para pengikut Imam Malik, yang
menyatakan tidak perlu lagi mempelajari Tafsir al-Qur’an dan hadits karena
semua itu telah dilakukan oleh Imam Malik.
Dalam
kondisi demikian muncul Ibn Tumart (1078-1130) dari kabilah masmudah pasca
belajar dari beberapa daerah pusat penyebaran Islam (Cordova, Alexandria, Makkah
dan Bagdad) dan juga belajar kepada al-Ghazali yang beraliran asy’ariah.
Sekitar tahun 1100 M dia kembali ke Maroko dan menyebarkan ajarannya yang
mendapat sambutan baik dari masyarakat. Inti ajarannya adalah tauhidullah,
mengesakan Tuhan dan praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan ajaran
Islam dia kritik secara tajam. Di samping memperkenalkan ajaran itu Ibn Tumart
juga mendakwakan dirinya sebagai al-Mahdi yang akan membangkitkan kebenaran dan
keadilan.[2]
Gerakan
yang dibangun berdasarkan kebenaran dan kemurnian ajaran Islam tersebut
berhasil merangkul banyak pengikut dari masyarakat, walaupun terkadang
dakwahnya tidak selalu mulus. Pada tahun 1117 M Ibn Tumart dan pengikutnya
terusir dari tempat tersebut, sehingga dia pergi ke Marakesy. Namun, karena
ditempat tersebut kehadirannya tidak begitu mendapat sambutan, akhirnya dia
pergi ke Tilimsan (Tinmal/Tanmaal). Dari tempat inilah dia menyusun kekuatan
yang berwujud menjadi sebuah dinasti di temani oleh Abdul Mu’min yang ia
dapatkan di Marakesy.
Untuk
menyebarkan dakwahnya ia mengirim da’i keberbagai daerah untuk mengajak kepada
kebenaran (amar ma’ruf) dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang buruk (nahi
mungkar). Kepada pengikutnya dia menyerukan supaya mendirikan shalat tepat
waktu, berakhlak terpuji, taat pada undang-undang, membuat wirid yang dibuat
oleh imam Mahdi dan mendalami kitab-kitab aqidah al-Muwahhidun. [3]
Pada
tahun 1130, Ibn Tumart digantikan oleh sahabat sekaligus jenderalnya, ’Abd
al-Mu’min ibn ’Ali, anak seorang pembuat tembikar dari suku Zanatah, yang dalam
perkembangannya menghancurkan pasukan Dinasti Murabbitun dekat Talimcen, yang
diduduki beserta Fez, Ceuta, Tangier, dan Agmat; setelah mengepung Maroko
selama 11 bulan (1146-1147. Setelah menguasai Maroko dan Spanyol, ’Abd
al-Mu’min melanjutkan penaklukan ke Aljazair pada tahun 1152, ke Tunisia tahun
1158, dan Tripoli pada tahun 1160, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah
muslim, seluruh pesisir dari Atlantik hingga perbatasan Mesir dihimpun dengan
Spanyol sebagai suatu imperium independen.
Pasca
kematian ’Abd al-Mu’min (w. 1163), ia digantikan oleh seorang putra budak
kristen, Abu Yusuf Ya’qub al-Manshur (1184-1199), pemimpin yang paling tenar
pada masa kekuasaan dinasti Muwahhidun.
Dan
pada perkembangan hingga masa kekuasaannya, pemimpin yang pernah berkuasa pada
masa kekuasaan dinasti Muwahhidun berjumlah 14 orang yang tidak dibahas satu persatu
dalam tulisan ini, di antaranya:
Tahun
|
Tokoh
|
524/1130
|
Muhammad Ibn Tumart, w.
|
524/1130
|
‘Abdul Mu’min
|
558/1163
|
Abu-Ya’kub Yusuf I
|
580/1184
|
Abu-Yusuf Ya’qub Al-Manshur
|
595/1199
|
Muhammad An-Nashir
|
611/1214
|
Abu-Ya’qub Yusuf II Al-Mustanshir
|
620/1224
|
‘Abdul Wahid I Al-Makhlu’
|
621/1224
|
Abu-Muhammad ‘Abdullah Al-‘Adil
|
624/1227
|
Yahya Al-Mu’tashim
|
626/1229
|
Abdul ‘Ala Idris Al-Ma’mun
|
630/1232
|
Abu-Muhammad ‘Abdul Wahid H Ar-Rasyid
|
640/1242
|
Abul Hasan ‘Ali as-Sa’id Al-Mu’tadhid
|
646/1248
|
Abu Hafs ‘Umar Al-Murtadha
|
665-667/1266-1269
|
Abul ‘Ula Al-Watsiq[4]
|
B. Kemajuan Yang Dicapai Dinasti Muwahhidun
Pada zaman Muwahhidun Andalus
mencapai puncaknya, terutama pada zaman Al-mu’min, perkembangan peradaban
islam, terutama perkembangan ilmu. Meski kemajuan itu pada dasarnya merupakan
kelanjutan dari peradaban masa sebelumnya, tetapi mereka memiliki sisi-sisi
peradaban yang menarik dan menonjol. Sisi-sisi keindahan dan kedalaman
apresiasi mereka terhadap makna kehidupan tercermin dalam karya sastra mereka.
Berikut perkembangan pada zaman al-Muwahhidun:
a.
Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam bidang
sastra dan bahasa, al-Muwahhidun banyak melanjutkan kemajuan yang telah dicapai
al-Murabithun, tokoh-tokohnya di antaranya yaitu:[5]
1) Ibn
al-Khafajar (w.1139 M)
2) Abu Bakr Muhammad
ibn Zuhr (w.1110 M)
3) Ibn Quzman
atau Abengusman (w.1160 M).
Pada masa ini muncul pula
tokoh-tokoh lexicographer seperti :
1) Ibn Sida’
(w.1066 M)
2) Abu Bakr
al-Turtusi yang dikenal dengan Ibn Abi Randaq (w.1130 M), dengan karyanya Siraj
Al-Mulk.
Di samping itu juga terdapat
beberapa tokoh-tokoh yang terkenal yang hidup pada masa kekuasaan Dinasti
Muwahhidun antara lain:
1)
Ibn Bajjah (533 H/1139 M), seorang
filosof dengan karyanya The Rule of Solitary. Ia juga berada di bidang musik
yang disebut Avenpace atau Abenpace.[6]
2)
Ibn Thufayl, (581 H/ 1185-1186 M),
seorang filosof dengan karyanya Hayy bin Yaqzhan. Ia juga seorang dokter, ahli
geografi dan penyair Andalusia atau yang dikenal dengan nama Al-andalusi,
Al-Kurtubi, Al-Isibily.
3)
Ibn Rusyd (1126-1198 M), ia adalah
seorang filosof , dokter, ahli matematika, fikih, ahli hukum, juga seorang
poplemik atau dikenal dengan sebutan Averrous.[7] Dan berikut karya-karyanya :
ü
Bidang filsafat, karyanya Tahafut
al-Tahafut.
ü
Bidang kedokteran, karyanya Kulliyat
fi at-Thib (aturan umum kedokteran).
ü
Bidang fiqih, karyanya Bidayah
al-Mujtahid.
4)
Ibn Zuhr atau Avenzoar (w.1198 M),
ia adalah seorang tabib dan ahli bedah terkenal yang hidup sezaman dengan Ibn
Rusyd.[8]
5)
Ibn Jubair, seorang pengembara dari
Andalusia, buku pengembaraannya dianggap sebagai puncak karya seni satra
pengembaraan bangsa Arab yang tiada tandingnya. Dia bekerja sebagai penulis
bagi penguasa Granada dari dinasti al- Muwahhidun, ia lebih dikenal sebagai
penulis dan penyair. Akan tetapi pengembaraannyalah yang membawanya kepada
kedudukan yang sangat terhormat dalam ilmu geografi.
6)
Ibn al-Arabi atau Ibn Suraka, ia
berada di bidang tasawuf yang mengajarkan Wihdat al-Wujud.
7)
Abu Madyan, pendiri tarekat
Syadzaliyah di Spanyol.
b.
Bidang Arsitektur
Dalam bidang
arsitektur pada zaman dinasti al-Muwahhidun juga cukup maju dengan didirikannya
berbagai bangunan dan berikut sumbangan peradabannya:
ü Menara
Giralda di Sevilla.
ü Ribatul Fath
yang meniru gaya Alexandria.
ü Dan juga
mendirikan rumah sakit yang besar di Marakesy.
c.
Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi Dinasti
Muwahhidun mengadakan hubungan dagang yang luas terutama dengan pulau-pulau di
seputar Italia, seperti Genoa, Pisa, Marseille, Vanice, dan Silsilia.[9]
C. Kemunduran Dinasti Muwahhidun
Kemegahan Dinasti al-Muwahhidun
setelah wafatnya Abu Ya’qub Yusuf I, tidak dapat bertahan lama. Sumber sejarah
menyebutkan bahwa pasca pemerintahan Abu Ya’qub Yusuf I, yakni ketika Abu Yusuf
al-Mansur tampil menggantikannya, akhir pemerintahannya telah menunjukkan
tanda-tanda kemunduran bagi dinasti ini.[10] Kemajuan yang telah dicapai oleh pemimpin terdahulu, tidak mampu
dipertahankan lagi oleh pemimpin sesudahnya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
terjadinya kemunduran bagi Dinasti al-Muwahhidun, antara lain:
1) Faktor Internal
Salah satu indikasi faktor internal
yang menyebabkan terjadinya kemunduran dinasti ini adalah tampilnya pemimpin
yang tidak mampu menangkap peluang dan mengakomodasi berbagai trend
pengembangan, yakni ketika Muhammad al-Nashr (1184 M) tampil menggantikan
pemimpin sebelumnya, dengan usianya yang relatif muda, kurang lebih 17 tahun
usianya ketika itu. Ia belum memiliki kapabilitas serta kematangan emosional
yang memadai. Padahal untuk menjadi pemimpin sebuah wilayah yang luas, sangat
dibutuhkan managerial skill serta pengetahuan dan pengalaman yang cukup, agar
memiliki kredibilitas di dalam mengendalikan roda pemerintahan.
Akibat dari berbagai kelemahan yang
dimiliki al-Nashr tersebut, maka di dalam mengendalikan pemerintahannya lebih
banyak dipegang oleh menteri-menterinya yang saling merebut mengambil simpati
khalifah yang masih muda, sehingga situasi ini dimanfaatkan oleh lawan-lawan
al-Muwahhidun, termasuk sisa-sisa al-Murabithun yang belum dapat dilumpuhkan,
kembali melakukan perlawanan. Termasuk munculnya pemberontakan dari Bani
Ghaniyyah yang pernah ditaklukkan oleh penguasa sebelumnya, yaitu Abu Ya’qub.
Mereka kembali melakukan perlawanan dengan motifnya menjatuhkan kekuasaan
al-Muwahhidun.
Di samping itu, kurangnya kontrol
dan perhatian pemerintah pusat terhadap daerah-daerah yang jauh dari pusat
pemerintahan, menyebabkan adanya keinginan mereka untuk memisahkan diri. Hal
ini menunjukkan bahwa adanya wilayah yang luas yang tidak bisa dimenej dengan
baik, justeru sangat berpotensi terhadap terjadinya instabilitas dalam negeri,
karena adanya ancaman desintegrasi. Ancaman desintegrasi ini, seperti munculnya
Yaghamrasan ibn Zayyan di Tlemen pada tahun 1236 M yang dapat mendirikan
kerajaan, Abd al-Wadiyyah yang merdeka di Maghrib.[11]
Pada tahun berikutnya Abu Zakariyya
sebagai gubernur al-Muwahhidun di Ifriqiyyah menyatakan kemerdekaan dari Tunis
dan mendirikan Dinasti Hifsiyyah. Keadaan ini semakin memperparah kondisi
Dinasti al-Muwahhidundan akhirnya membawa kepada kejatuhan dinasti ini, yakni
pada tahun 1269 M, saat ibu kota Maroko jatuh ke tangan Dinasti Marawiyyah.
Dengan berdirinya Dinasti Marawiyyah, maka berakhirlah Dinasti al-Muwahhidun
yang pernah jaya dan sempat bertahan selama satu abad lebih.
2) Faktor Eksternal
Bersamaan dengan kemunduran Dinasti
al-Muwahhidun, sebagai akumulasi dari berbagai persoalan sosial politik dalam
negeri, pasukan Salib yang telah dikalahkan oleh Salahuddin di Palestina
kembali ke Eropa dan mulai menggalang kekuatan baru di bawah pimpinan Alfonso
IX. Kekuatan Kristen ini mengulangi serangannya ke Andalusia dan berhasil
mengalahkan kaum muslimin. Karena penguasa al-Muwahhidun merasa terdesak,
akhirnya meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara (Maroko). Sedangkan
Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen pada tahun 1238 M, menyusul Seville
jatuh pada tahun 1248 M. Serangan-serangan yang dilakukan pasukan Kristen ini
telah menjadikan seluruh Spanyol lepas dari kekuasaan Islam, kecuali Granada.[12]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Dinasti Muwahhidun
tumbuh dan berkembang di Afrika Utara dan Spanyol. Kelahiran Muwahhidun ini
bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam yang telah dikotori orang-orang
Murabhitun pada fase akhir kekuasaannya. Dinasti ini mampu meraih kejayaan
karena pemimpin yang kuat serta cinta ilmu pengetahuan. Kehadiran dinasti Muwahhidun ini telah membuka mata orang barat tentang pencapaian peradaban ummat manusia.
2.
Pada zaman Muwahhidun Andalus
mencapai puncaknya, terutama pada zaman Al-mu’min, perkembangan peradaban
islam, terutama perkembangan ilmu. Meski kemajuan itu pada dasarnya merupakan
kelanjutan dari peradaban masa sebelumnya, tetapi mereka memiliki sisi-sisi
peradaban yang menarik dan menonjol. Sisi-sisi keindahan dan kedalaman
apresiasi mereka terhadap makna kehidupan tercermin dalam karya sastra mereka.
Berikut perkembangan pada zaman al-Muwahhidun:
1.
Bidang Ilmu Pengetahuan
2.
Bidang Arsitektur
3.
Bidang Ekonomi
3.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
terjadinya kemunduran bagi Dinasti al-Muwahhidun, antara lain:
ü
Faktor Internal, Salah satu indikasi faktor internal yang menyebabkan
terjadinya kemunduran dinasti ini adalah tampilnya pemimpin yang tidak mampu
menangkap peluang dan mengakomodasi berbagai trend pengembangan.
ü
Faktor Eksternal, Bersamaan dengan kemunduran Dinasti al-Muwahhidun,
sebagai akumulasi dari berbagai persoalan sosial politik dalam negeri,
B.
Saran –
Saran
1. Diharapkan kepada teman-teman
sejawat untuk biasa memahami secara mendalam lagi tentang materi yang
disampaikan dan diharapkan untuk mempertanyakan hal-hal yang belum dimengerti
agar kedepannya tidak salah lagi.
2. Diharapkan kepada teman-teman
Mahasiswa/Mahasiswi untuk memperhatikan secara khusus tiga pokok materi yang kami bahas yaitu proses dan
perkembangan dinasti muwahhidun, kemajuan yang dicapai dinasti muwahhidun, dan
kemunduran dinasti muwahhidun. Karena, ketiga materi ini adalah bidang yang menjadi salah satu
penunjang akan sejarah peradaban islam.
3. Diharapkan kepada teman-teman
Mahasiswa/Mahasiswi untuk memperhatikan serta merenungkan akan pentingnya sejarah-sejarah
Islam diseluruh dunia dalam perkembangan peradaban islam yang membawa kita
semua ke peradaban islam modern seperti saat ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman Dudung. 2004. Sejarah Peradaban Islam Cet. I. Yogyakarta: LESFI.
Amin,
Husayin Ahmad. 1997. Seratus Tokoh dan Sejarah Islam Cet.
I. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Bosworth
C.E. 1993.
Dinasti-Dinasti Islam. Bandung: MIZAN.
Nawir
Sadewa, ”Sejarah Perkembangan Dan
Kemunduran Dinasti Muwahhidun”, Dikutip dari
http://www.tongkronganislami.net/sejarah-perkembangan-dan-kemunduran-dinasti-muwahhidun/, Pada tanggal 27 September
2017 pukul 13:35
Sunanto, Musurifah. 2007. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam Cet. 3. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tim
Penulis.1994.
Ensiklopedi Islam
Jilid III. Jakarta:
Iktiar Baru Van Hoeve.
Yasin, R. Cecep Lukman dkk. 2006. Sejarah
Arab. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
[1]Tim Penulis,
Ensiklopedi Islam Jilid III, (Jakarta:
Iktiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 332
[2]R. Cecep
Lukman Yasin dkk, Sejarah Arab, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006 ) h. 693.
[3]Ibid, h. 697
[4]C.E.
Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, (Bandung: MIZAN, 1993),
h. 51.
[5] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban
Islam Cet. I, (Yogyakarta: LESFI, 2004), h. 122
[6] Musurifah
Sunanto, Sejarah Islam Klasik; Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam Cet. 3 (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007), h.139
[7] Husayin Ahmad Amin, Seratus Tokoh dan Sejarah Islam Cet. I, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997), h.192.
[8] Dudung Abdurrahman, Loc. Cit, h. 274.
[9] Husayin Ahmad Amin, Loc. Cit, h. 139.
[10]Nawir Sadewa, ”Sejarah
Perkembangan Dan Kemunduran Dinasti Muwahhidun”, Dikutip dari
http://www.tongkronganislami.net/sejarah-perkembangan-dan-kemunduran-dinasti-muwahhidun/, Pada tanggal 27 September 2017 pukul 13:35.
[11]Nawir
Sadewa, ”Sejarah Perkembangan Dan
Kemunduran Dinasti Muwahhidun”, Dikutip dari http://www.tongkronganislami.net/sejarah-perkembangan-dan-kemunduran-dinasti-muwahhidun/, Pada
tanggal 27 September 2017 pukul 13:35.
[12]Nawir Sadewa, ”Sejarah
Perkembangan Dan Kemunduran Dinasti Muwahhidun”, Dikutip dari
http://www.tongkronganislami.net/sejarah-perkembangan-dan-kemunduran-dinasti-muwahhidun/, Pada tanggal 27 September 2017 pukul 13:35.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar